Jumat, 24 April 2026

Sambang Kampung Banyuurip

UKM Warna Ayu, Buat Kain Ikat Jumput dari Warna Alam

"Memang nggak semua bahan alami bisa. Tapi kami memang suka coba-coba. Prinsipnya adalah yang bergetah," kata Nanik Suhariyati.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya/achmad zaimul haq
POTENSIAL - Salah satu sudut kampung Banyu Urip mempunyai potensi UKM. 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Masih minimnya bahan kain yang menggunakan bahan alami membuat dua warga Kelurahan Banyu Urip Kecamatan Sawahan memanfaatkan peluang. Bermodal keterampilan membuat ikat jumput, mereka berkreasi membuat kain ikat jumput dengan warna-warna alam.

Beda dengan membuat kain dari pewarna sintetis, menggunakan bahan warna alam ternyata memiliki kesulitan dan tantangan yang berlipat. Jika sintetis bisa diperoleh dengan membeli di toko kimia, untuk pewarna alami, Nanik Suhariyati dan Siti Sulaikah, harus ramban ke pohon-pohon yang bisa dijadikan pewarna tekstil.

"Memang nggak semua bahan alami bisa. Tapi kami memang suka coba-coba. Prinsipnya adalah yang bergetah," kata Nanik Suhariyati, Rabu (25/10/2017) saat disambangi Surya di Jalan Banyu Urip Wetan Tengah Gang Buntu I No 5.

Ia menyebutkan mereka sudah tujuh tahun menjalankan bisnis UKM Warna Ayu ini. Mulanya, mereka menyadari bahwa suppai untuk kain ikat jumput berbahan warna alami harus didapatkan dari luar kota.

Padahal, saat dipelajari teknik pewarnaan menggunaan warna alam tidaklah susah. Hanya saja butuh ketelatenan yang berkali-lipat. "Berbekal keterampilan dari Solo dan Jogja hanya hanya beberapa jam, kami lalu mencoba produksi sendiri, coba-coba warna yang bisa dimanfaatkan," kata Nanik.

Mereka menggunakan daun mangga untuk menghasilkan warna hijau, lalu kulit kayu tingi untuk menghasilkan warna cokelat gelap dan kulit kayu teger untuk menghasilkan warna kuning.

Tidak sampai di sana, untuk menghasilkan warna merah, Nanik dan Siti menggunakan kayu secang, jika ingin warna cokelat dengan semu merah bisa menggunakan kayu mahoni.

"Kami juga pakai serabut kelapa untuk membuat warna coklat muda. Memang sering coba-coba,, sempat nyoba pakai akar beringin tapi ternyata bau sekali, akhirnya nggak pakai. Lalu juga pakai kulit bawang merah, ternyata bisa jadi warna pink lumayan bagus," ucapnya.

Untuk bisa menghasilkan ekstrak warna dari bahan alami, disampaikan Nanik cukup mudah. Daun-daun itu cukup direbus di air mendidih. Dibiarkan sampai air berubah warna.

Sementara menunggu air berubah warna, kain katun bahan disiapkan dengan membentuk pola ikat jumputan yang dikendaki. Semakin unik semakin banyak disukai pasar.

Baru setelah itu kain yang sudah diikat jumputannya dicelupkan ke dalam kain pewarna. Tidak cukup sekali, melainkan harus puluhan kali.

"Beda sama pewarna sintetis, pakai warna alami harus sampai 30 kali. Untuk memastikan warnanya benar-benar nempel di kainnya, bahkan bisa lebih," kata Siti.

Padahal dalam satu hari, hanya bisa dilakukan dua kali pencelupan. Sebelum mencelupkan ke pewarna, kain harus dipastikan kering dengan secara alami, tanpa memeras kain.

Jadi, satu potong kain baru bisa jadi setelah 15 hari. Wajar jika kain warna alami ini menjadi lebih mahal dibandingkan dengan harga kain yang diwarna dengan pewarna sintetis. Satu kain warna alami ini dijual dengan Rp 250 ribu. Sedangkan untuk kain pewarna sintetis harganya Rp 110 ribu perpotongnya.

Meski dibandrol lebih mahal, namun nyatanya banyak yang berinat dengan kain warna alami ini. Sekmen yang dibidik sebagai pasar adalah kalangan menengah ke atas. Sebab warna alami cenderung menghasilkan warna yang lebih kalem yang tidak norak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved