Berita Banyuwangi
Banyuwangi Borong Empat Penghargaan di HUT Jatim
Hari Jadi Provinsi Jatim tahun ini menjadi momen kebanggaan bagi Banyuwangi karena berhasil menyabet empat penghargaan sekaligus.
Penulis: Haorrahman | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Banyuwangi memborong empat penghargaan dalam peringatan Hari Jadi Provinsi Jatim, Kamis (12/10). Dua penghargaan diraih oleh Pemkab Banyuwangi, dan dua penghargaan lainnya diraih warga Banyuwangi.
Dua penghargaan yang diterima Pemkab Banyuwangi, pertama, diraih oleh Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) sebagai Pusdalops terbaik se-Jatim.
Penghargaan ini diberikan setelah melalui pemantauan, penilaian dan peninjauan lokasi oleh Tim Penilai Lomba Pengelolaan Data dan Informasi Kebencanaan Provinsi Jatim, mulai April hingga September, yang diikuti oleh seluruh BPBD.
Adapun indikator penilaian meliputi perencanaan, kelengkapan administrasi, responsivitas, dan partisipasi.
Penghargaan kedua diraih Banyuwangi sebagia penyaji terbaik non rangking dalam festival karya tari 2017. Di bidang ini Banyuwangi meraih penghargaan bersama Ponorogo dan Bojonegoro.
"Penghargaan ini merupakan bentuk partisipasi rakyat. Bahkan kami juga bangga dua warga Banyuwangi yang meraih penghargaan," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Selain itu, dua warga Banyuwangi juga meraih penghargaan. Mereka adalah Vicky Hendri Kurniawan, yang meraih penghargaan di bidang kreator seni film, dan Armaya meraih tokoh budayawan berdedikasi.
Vicky merupakan kreator film dan produser Banyucindih Creative. Banyucindih merupakan sekelompok anak muda yang bergerak di bidang video kreatif asal Dusun Banyucindih, Desa Segobang, Kecamatan Licin, terletak di kaki Gunung Ijen, Banyuwangi. Usia mereka masih muda, rata-rata 20 tahun.
Hampir semua film karya anak-anak Banyucindih ini mengisahkan tentang Banyuwangi. Mulai dari potensi, seni, budaya, perekonomian, dan kearifan lokal tanah Blambangan lainnya.
Seperti film dokumenter tentang potensi Desa Banjar, Kecamatan Licin. Film ini menceritakan tentang pesona desa, dan geliat perekonomian warga yang terkenal dengan gula arennya.
Juga film dokumenter tentang Desa Tamansari, yang mengisahkan potensi desa. Bahkan Desa Tamansari meraih penghargaan "Desa Wisata Award", dari Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDT).
Desa yang terletak di lereng Gunung Ijen tersebut menjadi desa wisata terbaik dalam kategori pemanfaatan jejaring bisnis.
Sedangkan Armaya merupakan penyair, sastrawan, asal Banyuwangi. Banyak karya-karya Armaya yang mengangkat Banyuwangi.
Anas berharap dengan penghargaan ini, bisa melecut masyarakat Banyuwangi untuk banyak berkarya.
"Saat ini warga Banyuwangi telah percaya diri untuk berbuata sesuatu bagi daerahnya," kata Anas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/banyuwangi-raih-4-penghargaan-di-hut-jatim_20171012_175543.jpg)