Liputan Khusus
500 Pasutri Antre Adopsi Anak
Ratusan, bahkan mungkin ribuan pasutri di Jawa Timur saat ini antre mendapatkan anak adopsi. Sementara, banyak kasus anak dibuang saat dilahirkan...
Penulis: M Taufik | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Usia pernikahannya memang baru setahun lebih. Tetapi, Ria dan suami sudah sangat mendambakan kehadiran buah hati. Mereka pun sepakat untuk mengadopsi anak. Meski keinginan itu belum terwujud hingga hari ini.
Ria adalah seorang wanita karier. Ia tinggal dan bekerja di Surabaya. Beberapa cara sudah ia coba untuk bisa merawat anak, meski bukan lahir dari rahim sendiri.
“Alasan pertama, saya menikah sudah setahun lebih tetapi belum mendapatkan momongan. Sedangkan saya sangat menginginkan untuk segera mendapatkan buah hati,” kata Ria, kepada Surya.
Ia percaya mitos, mengadopsi anak bisa menjadi pancingan pasangan suami-istri untuk segera mendapat momongan. Hal tersebut tentu bukan motif yang paling utama.
“Saya memang sudah ada niat ingin mengadopsi anak yatim,” tambah perempuan yang usianya 20-an tahun itu.
Keinginan untuk mengadopsi bayi muncul pertama kali saat Ria merasa kesepian di rumah, di daerah Surabaya barat. Ia hanya tinggal bersama sang suami. Meski keinginan utama adalah merawat bayi yatim, ia mengaku akan menerima apabila ada keluarga kurang mampu yang tak sanggup merawat bayinya.
“Karena niat saya ikhlas untuk membantu,” imbuh Ria.
Bagi Ria, yang terpenting adalah hak status anak asuh. Ia tak mau jika ketika bayi yang akan ia asuh akan diminta secara paksa oleh keluarganya. Alasannya sederhana.
“Karena kita rawat juga penuh kasih sayang dan materi yang tidak sedikit. Jadi jangan sampai sudah dirawat, pas besar diambil. Bakal kehilangan banget kita,” katanya berandai-andai.
Seleksi ketat
Jika di beberapa daerah banyak orang tua tega membuang bayinya sendiri, di sisi lain banyak juga keluarga yang bertahun-tahun merindukan momongan. Karena tak kunjung dikaruniai anak, pasangan suami istri (pasutri) rela mengantre untuk mengadopsi anak.
Di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelayanan Sosial Asuhan Balita (PSAB) Sidoarjo saja, sejauh ini sudah sekitar 500 calon orang tua asuh.
“Itu jumlah yang sudah resmi mendaftar untuk menjadi calon orang tua asuh,” ungkap Sri Muriyani, Kasi Pelayanan UPT PSAB Sidoarjo.
Jumlah itu baru yang tercatat di UPT PSAB Sidoarjo yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Jawa Timur. Belum termasuk yang mengajukan permohonan adopsi ke berbagai panti asuhan swasta yang tersebar di berbagai daerah. Tentu, jumlahnya jauh lebih banyak.
“Saking banyaknya yang ingin mengadopsi, mereka harus antre. Dinsos juga tidak sembarangan mengeluarkan anak, ada skala prioritas dan berbagai pertimbangan dalam memilih calon orang tua asuh bagi anak-anak yang dirawat di sini,” imbuhnya.
Tentunya ada berbagai syarat yang harus dilalui calon orang tua asuh untuk mendapat izin adopsi. Bahkan, setelah mengadopsi pun orang tua asuh masih harus menjalani sejumlah proses untuk mendapat legalitas atas hak asuh anak.
Menurut Sri Muriyani, proses awal sebelum adopsi biasanya ada pendekatan calon orang tua selama enam bulan. Setelah itu, dilakukan pantauan dengan kunjungan-kunjungan ke rumah oleh petugas Dinas Sosial. Setelah semua diyakini layak, barulah calon orang tua asuh mendapat SK pengangkatan.
Dalam proses pelepasan anak juga ada berbagai instansi yang ikut melakukan pengawasan. Antara lain LSM, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, polisi, dan berbagai instansi lain. Total, ada 13 instansi.
Setelah calon orang tua asuh bisa melewati semua proses yang telah ditentukan, baru akan mendapat SK Penetapan melalui sidang penetapan dari Pengadilan Negeri.
“Berbagai persyaratan dan ketentuan itu sengaja dibuat untuk memastikan anak agar tidak terlantar lagi setelah mendapat orang tua asuh,” tandas Sri.
Data di UPT PSAB Sidoarjo, sejak tahun 2010 hingga sekarang sudah ada 17 angkatan yang mengadopsi anak. Instansi yang mulai beroperasi sejak 2009 ini, melepas anak untuk diadopsi orang tua asuh pertama kali pada Februari 2010.
Rinciannya, pada 2010 sebanyak 29 anak (14 laki-laki dan 15 perempuan) yang diadopsi, 2011 ada 32 anak (17 laki-laki dan 15 perempuan), 2012 sebanyak 26 anak (14 laki-laki dan 14 perempuan), pada 2013 ada 30 anak (18 laki-laki dan 12 perempuan).
Di tahun 2014 tercatat ada 30 anak yang dilepas (20 laki-laki dan 10 perempuan), 2015 ada 23 anak (10 laki-laki dan 13 perempuan), dan pada 2016 sebanyak 41 anak (19 laki-laki dan 22 perempuan).
Sementara di tahun 2017 ini, terhitung hingga bulan Juli, sudah ada 33 anak (16 laki-laki dan 17 perempuan) yang diadopsi dari UPT PSAB Sidoarjo. Jadi, total anak yang diadopsi dari tempat ini selama tujuh tahun berjalan sudah ada 244 anak, terdiri dari 128 laki-laki dan 116 perempuan.
Tentu, jumlah itu masih terbilang sedikit dibanding calon orang tua asuh yang mengajukan diri. Sekarang ini saja masih ada sekitar 500 calon orang tua asuh mengantre.
Di UPT PSAB Sidoarjo, saat ini hanya ada 42 anak yang dirawat. Yakni 26 anak berusia di bawah satu tahun (12 laki-laki dan 14 perempuan), serta 16 anak berusia 2-6 tahun yang terdiri dari sembilan laki-laki dan tujuh perempuan. (Aflahul Abdidin/M Taufik)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ratusan-pasutri-antre-adopsi-bayi_20170925_192803.jpg)