Minggu, 3 Mei 2026

Press Release

Usai Bicara di Tiga Negara, Menteri PPPA Langsung ke Jember

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof Dr Yohana Susana Yembise, mengaku sangat penasaran dan berkeinginan kuat datang ke Jember

Tayang:
Editor: Cak Sur
ist
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof Dr Yohana Susana Yambise, Dip, Apling, MA, bersama Bupati Jember dr Hj Faida, MMR dan deputi bidang koordinasi perlindungan perempuan dan anak, pada Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sujatmiko 

SURYA.co.id | JEMBER - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof Dr Yohana Susana Yembise, mengaku sangat penasaran dan berkeinginan kuat datang ke Jember untuk berkenalan dan bertemu langsung dengan Bupati Jember, karena seorang perempuan.

Acara ke Jember sempat  dibatalkan karena dia selama 4 hari belakangan ini terus menerus menjadi pembicara di ajang Internasional, dalam rangka peningkatan peran perempuan dan perlindungan anak. Saking padatnya acara dan membutuhkan konsentrasi tinggi, begitu menerima penghargaan dari USF, Vancouver, Canada, Menteri Yohana telah memutuskan batal berangkat ke Jember.

“Tetapi ini sepertinya doa Bupati Jember sangat kuat. Begitu dari London, usai acara Pekan Raya Internasional di Amsterdam dan dari London, Inggris, saya memutuskan untuk datang ke Jember,” ujarnya.

Yohana, sempat memerintahkan Sekretaris Kementerian untuk datang ke Jember mewakilinya. Tetapi akhirnya dibatalkan. Dia berangkat ke Jember sendiri tanpa ajudan. Dia hanya didampingi oleh beberapa staf kementerian saja.

“Enak juga sih, bebas tanpa adanya protokoler ajudan,” ujarnya.

Bicara di depan Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, Menteri Yohana mengaku bangga melihat Jember. Karena memiliki Bupati yang seorang perempuan. Dalam kamusnya bahwa perempuan saat ini sedang dalam perjuangan meningkatkan kesetaraan gender, tetapi di Jember sudah bisa menempati posisi strategis di eksekutif.

Yohana, juga memuji kepiawaian Bupati Jember dr Faida, MMR, menggerakan stakeholder di Jember untuk mendukung program – program pemerintah melalui perempuan – perempuan. 

Dalam kesempatan itu Menteri Yohana, meminta agar perempuan dan anak di Jember menjadi fokus perhatian utama. Apalagi perempuan dan anak telah menjadi perhatian dunia, terutama di Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB).

Dia menukil sendikit tentang lawatannya ke beberapa negara terutama dia usai menghadiri acara Alumni Award, yang digelar di Vancouver Kanada. Dia sebagai satu satunya perempuan dari 5 penerima penghargaan itu, beruapa Simon Fraser University Outstanding Alumni Award di bidang pelayanan publik.

Yohana sendiri dianggap telah terbukti memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui advokasi akses pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Menteri PPPA Bicara Nasib Perempuan 2030

Berakhir sudah rasa penasaran Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof Dr Yohana Susana Yembise, karena telah benar – benar bertemu dengan Bupati Jember dr Hj Faida, MMR.

Rasa penasaran itu terobati setelah dia memutuskan datang langsung ke Jember ingin melihat dan  menemui Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, yang seorang perempuan.

“Ini mungkin kekuatan doa Bupati, dan saya sendiri ingin bertemu dengan Bupati Jember yang memang seorang perempuan,” ujarnya.

Menteri Yohana, menegaskan bahwa nasib perempuan Indonesia 2030 mendatang adalah harus seimbang dengan laki – laki. Indonesia kebetulan dipilih sebagai pilot project untuk menuju planet 50 ; 50 (perbandingan fitfty fifty) antara laki – laki dan perempuan.

Dia sangat konsen terhadap perjuangan perempuan untuk menempati posisi strategis di pemerintahan. Bahkan di Indonesia baru ada 86 orang Bupati/Wakil Bupati/Walikota/Wakil Walikota yang berasal dari gender perempuan. Dia mengakui bahwa saat ini bicara khusus topic perempuan sudah tidak lagi harus dibatasi dengan diskriminasi karena perempuan menjadi fokus utama dunia.

Perjalanan perjuangan perempuan masih sangat panjang. Hanya saja, dunia atau PBB telah menjadikan perempuan sebagai perhatian utama. “Tahun 2030 termasuk Indonesia diproyeksikan atau menjadi pilot project planet 50 : 50. Artinya benar – benar seimbang sejajar dengan kaum laki – laki,” ujar Yohana.

Indonesia jelas dipilih karena diakui sebagai negara the most majority muslim atau number one muslim country. Menariknya PBB melihat bahwa selama ini Indonesia sangat membanggakan karena juga dikenal  high tolerant (toleransi tinggi,red). Indonesia, sangat maju dan terbukti di masa pemerintahan saat ini Presiden RI Joko Widodo, menempatkan 9 menteri di kabinet kerjanya.   

“Indonesia dipilih untuk menjadi uji coba atau pilot project karena ada 130 juta jiwa penduduk perempuan di Indonesia. Perjuangan untuk itu menjadi sangat susah. Karena diakui atau tidak perempuan masih hidup dalam “man dominate society” terutama di jabatan strategis,” tegas Yohana lagi.

Di Jember Bupatinya seorang perempuan. Maka dia mengaku sangat ingin sekali bertemu dengan Bupati. Karena sangat jarang mendapati sosok kepala daerah di Indonesia yang perempuan. Di Indonesia bagian timur dari 86 total kepala daerah perempuan, baru ada 6 orang Bupati dan satu Walikota.

Diakui Yohana, bahwa struggle atau perjuangan mendobrak dinding yang menghambat  perempuan untuk menduduki jabatan strategis  masih sangat berat. Terutama di posisi legislatif ada regulasi yang mensyaratkan calon legislatif, harus  memenuhi quota 15 %  perempuan  masih belum maksimal.

Saking konsennya terhadap perempuan, setiap tahun digelar pertemuan rutin dia pimpin sendiri, karena dia berkeyakinan perempuan itu adalah  agen of change untuk melawan kekerasan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved