Selasa, 7 April 2026

Berita Kediri

VIDEO - Jangan Konsumsi Kambing Mengidap Dermatitis, Berikut ini Gejalanya

"Kambing yang ditemukan dermatitis tidak layak untuk daging kurban. Karena larvanya diduga sudah menyebar," ungkap Drh Pujiono.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Parmin

Reportase: Didik Mashudi - https://youtu.be/lxkmVcK9X7w

SURYA.co.id | KEDIRI - Sidak tim kesehatan hewan dari Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Kediri menemukan seekor kambing menderita dermatitis.

"Kambing yang ditemukan dermatitis tidak layak untuk daging kurban. Karena larvanya diduga sudah menyebar," ungkap Drh Pujiono, Kasi Kesmafet Pengolahan dan Pemasaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan saat melakukan sidak, Selasa (29/8/2017).

Temuan kambing yang menderita dermatitis setelah tim sidak memeriksa stan hewan kurban di kawasan GOR Jayabaya. Petugas kemudian menemukan kambing yang terluka bagian telinga.

Malahan lukanya sudah membusuk dan ditemukan larva belatungnya. Sehingga kambingnya sudah tidak layak untuk hewan kurban.

"Kami merekomendasikan supaya tidak untuk daging kurban," tambahnya.

Selanjutnya kambing jenis peranakan Etawa diminta untuk tidak dijual kepada pembeli kambing kurban.

"Dermatitis ini penyakit kulit yang telah infeksi dan. Ada larva yang telah masuk dan dikhawatirkan telah menyebar," jelasnya.

Sedangkan temuan lainnya ada dua ekor kambing yang matanya sakit. Namun kedua kambing yang sakit mata ini tetap dapat digunakan untuk hewan kurban. "Kalau sakit mata diberi obat segera pulih," jelasnya.

Budi Santoso penjual kambing kurban mengaku luka yang mengakibatkan kambingnya menderita dermatitis diduga akibat digigit sesama kambing.

"Tiga hari lalu kambingnya terluka digigit kambing lainnya," ungkapnya.

Karena telah direkomendasikan tidak layak untuk hewan kurban, kambing yang menderita dermatitis tidak akan dijual.

"Kami sudah tidak lagi menaruh di depan dan tidak kami jual," jelasnya.

Budi merupakan pedagang musiman kambing kurban yang menggelar stan di kawasan GOR Jayabaya. Ada belasan ekor kambing ukuran sedang hingga besar yang dipajang di depan rumahnya.

"Harga termurah Rp 2 jutaan dan yang paling mahal jenis peranakan Etawa kami tawarkan Rp 6 juta," jelasnya.

Sementara pembeli kambing kurban diperkirkan mulai ramai paha H - 1 atau setelah Salat Idul Adha.

"Sudah ada beberapa yang laku, namun masih belum banyak. Sehari menjelang Idul Adha biasanya ramai," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved