Single Focus
Mengintip Praktik Bisnis Pujasera Kekinian
Pujasera Kekinian kian banyak di Surabaya. Lalu seperti apa sih tips bikin pujasera biar sukses? Yuk simak pengalaman para pelakunya...
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) kekinian mulai menjamur di Surabaya. Salah satunya di wilayah Surabaya Timur, tepatnya di Rungkut. Di sini, ada pujasera yang sudah bertahan sejak 2016. Pengunjung pujasera ‘Makmu" ini selalu memenuhi area parkir hingga meluber ke sisi jalan lainnya.
Menghapus kesan pujasera pada umumnya, yang menyajikan makanan murah, tempat yang panas, dan sajian yang biasa-biasa saja. Makmu menawarkan tempat dengan wifi, tempat yang luas dengan fasilitas indoor dan outdoor. Dekorasi unik mulai dari hiasan dinding hingga tempat duduk yang digunakan.
Prita, Public Relation Makmu mengungkapkan, pujaera Makmu mengangkat jargon Makmu Kiper (Makanan Murah Bikin Laper). Dengan dekorasi dan fasilitas nyaman, makanan yang ditawarkan tergolong masih aman bagi kantong pelajar. Yaitu kisaran Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
“Tenant yang berada di tempat kami harus berbeda dan unik menunya. Jadi segala macam menu mulai dari Suroboyo-an, chinese food, tradisional food semua ada disini,” ujarnya.
Sistem pemesanan juga dibuat praktis, setiap menu di tenan memiliki kartu yang memiliki barcode untuk di scan. Setidaknya, ada 11 tenan makanan, sedang minuman disediakan sendiri oleh pihak Makmu dan bisa dipesan di kasir.
Karena sering penuh, setiap konsumen yang mendapat kursi akan disediakan papan booking yang terbuat dari plat motor. Sehingga konsumen tidak akan kehilangan kursi yang dipilihnya saat berkeliling memilih makanan.
“Dekorasi kami buat kekinian, barusan juga kami ubah karena sudah hampir 1 tahun,” ungkapnya.
Dekorasi yang dubah itu, mulai dari fasilitas indoor yang lebih dingin dan dekorasinya. Mulai dari hiasan gantung hingga lukisan dindingnya.
Citra Aprilia (26) mengungkapkan, beberapa kali mengunjungi Makmu. Biasanya ia datang bersama teman-temannya untuk sekedar nongkrong. Menurutnya, Makmu tergolong murah untuk tempat seperti kafe. “Kalau foto disini pasti ada bom orang lain. Soalnya selalu rame kalau weekend kesini,” ungkapnya.
Lain lagi dengan Aiola Eatery, yang sudah berjalan selama enam tahun. Sebelumnya, tempat ini dikelola sebagai distro. Namun lantaran banyak tempat yang tersisa pengelola usaha kuliner ini nekat mempelopori bisnis eatery di kawasan Surabaya Pusat.
Direktur Utama Aiola Eatery, Irmadita Citrashanty mengatakan, sengaja memasukkan PKL karena ingin mengangkat level pedagang kaki lima ke tempat yang lebih tinggi.
"Di sisi lain, pelanggan bisa makan makanan PKL dengan tempat yang nyaman dan kondisi makanan yang bersih dan terjaga," kata Dita, pada Surya.
Ia menyebut, kini sudah ada 14 tenan yang mengisi eatery mereka. Dengan mayoritas atau 11 tenan adalah dari PKL yang dulunya berjualan keliling maupun menetap di pinggir jalan.
Dengan konsep bagi hasil setiap porsinya, PKL diajak untuk masuk dan cukup menyediakan makanan saja. Sedangkan alat makan, dan minuman semua dari pemilik eatery.
"Untuk PKL yang berjualan di sini, kami modelnya jemput bola mencari menu makanan yang digemari dan legendaris. Seperti mie pithik, dulu PKL itu terkenal di kawasan SMA kompleks makanya kami tarik, lalu bubur ayam Mang Dudung mulanya hanya jualan malam, tapi setelah kami persuasif akhir mau jualan masuk dan buka pagi," katanya.
Baca: #Eatery, Tempat Nongkrong Semua Segmen, Bikin Betah Penikmat Kuliner
Meski menu yang disediakan dari PKL, manajemen tetap turun tangan untuk memastikan menu yang sampai ke pelanggan sudah terjaga kualitasnya.
Ada quality control yang bertugas untuk mencicipi menu makanan di eatery ini. Misalnya kalau bumbu batagor terlalu kental atau bubur terlalu cair, maka manajemen akan pendekatan ke PKL dan memberi masukan agar menunya diterima dengan baik oleh pelanggan.
"Setiap tiga bulan sekali kami juga evaluasi marketing mereka. Ada sistem ranking berdasarkan omset yang nantinya bisa menjadi pemacu mereka untuk berkembang," tambah wanita yang juga dokter spesialis kulit ini.
Yang ada di ranking bawah pun bukan ditinggal atau diberi hukuman. Melainkan dibina agar mampu berinovasi dan bersaing dengan pedagang yang lain.
Begitu juga jenis makanan dan harganya. Agar tetap bisa dijangkau kalangan muda, harga makanan di sini dibatasi maksimal harga Rp 11.000 hingga Rp 25.000. Manajemen tidak ingin menu terlalu mahal lantaran mereka juga melayani segmen anak sekolah.
Enam tahun berjalan bisnis eatery ini bahkan sudah membuka cabang di Sidoarjo. "Alhamdulillah sekarang omset rata-rata per bulan sampai Rp 200 juta," ujarnya.
Beberapa waktu yang lalu mereka bahkan sempat didatangi Pemkot untuk diajak kerja sama mengembangkan sentra kuliner milik pemerintah yang juga berkonsep eatery dan menggandeng PKL.
Dari segi desain tempat, ia mengamini bahwa selama ini banyak anak muda yang menggunakan tempatnya untuk makan sambil berfoto. Ternyata aspek eatery yang instagramable juga dipakai, meski bukan aspek utama.
"Yang utama tetap rasa dan harga makanan. Kalau untuk pelanggan yang memburu foto, jika makanan tidak enak selesai foto mereka tidak akan kembali. Kalau sebaliknya tentu mereka akan tetap ingin kembali," ujarnya. (ovi/fz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pujasera-makmu-surabaya_20170827_222838.jpg)