Selasa, 12 Mei 2026

Berita Surabaya

Begini Aksi Mahasiswa Asing di Kampung Dolanan- Lihai Balap Karung, Kesulitan Bermain Egrang

Ada tiga permainan yang tadi dia mainkan bersama anak-anak Kampung Dolanan. Yaitu egrang batok, tarik tambang, dan juga balap karung.

Tayang:
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya/achmad zaimul haq
DOLANAN - Sejumlah pemuda dari Portugal, Vietnam, dan Cina belajar ikuti balap karung memeriahkan puncak festival kampoeng dolanan di kawasan Jl Kenjeran, Minggu (27/8/2017). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Suasana meriah terasa di Kampung Dolanan saat empat mahasiswa asing dari tiga negara ikut bermain tarik tambang dan balap karung dalam Festival Kampung Dolanan, Minggu (27/8/2017).

Keempat mahasiwa summer camp dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) itu turut meramaikan ajang culture exchange yang digagas oleh pemuda Kampung Dolanan RT 4 RW 2 Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto.

Joao Pereira, salah satunya, mahasiswa asal Portugal itu terlihat berusaha keras menarik tali tambang agar tidak sampai kalah dari lawan. Bergabung bersama warga setempat ia tak sungkan untuk membaur menyatukan semangat agar timnya tidak sampai kalah.

"Dua kali tadi satu kali tadi menang, cukup berat melawan lebih dari sepuluh orang," ucapnya lalu tertawa. Mahasiswa asal University of Aveiro ini mengaku permainan tradisional tarik tambang sama dengan permainan di negaranya yang biasa ia sebut Rope Game.

Kesan senada juga disampaikan oleh Victor, mahasiswa asal Vietnam ini mengaku menikmati menyatu anak-anak kampung dalam permainan tradisional.

Ada tiga permainan yang tadi dia mainkan bersama anak-anak Kampung Dolanan. Yaitu egrang batok, tarik tambang, dan juga balap karung.

"Untuk balap karung dan tarik tambang cukup seru dan bisa ikut memainkan. Tapi kami sempat kesulitan saat memainkan egrang," katanya.

Victor bahkan sampai sempat terjerembab saat akan melangkah menggunakan egrang batok. Padahal ia sudah melepas sepatu meski tetap menggubakan kaos kaki.

Tapi, setelah beberapa kali mencoba ia akhirnya mengtahui trik bermain egrang batok. Yaitu menyelaraskan langkah kaki dengan tarikan tali yang menghububhkan dua batok kelapa atau bambu.

Permainan egrang batok dikatakan mahasiswa asing tersebut juga ada di negaranya. Namun bukan dibuat dengan batok ataupun bambu.

Melainkan menggunakan kaleng atau plastik. Namun kedua batok tersebut tidak terhubung dengan tali. Melainkan setiap batok memiliki tali masing-masing yang dipegang oleh tangan kanan dan tangan kiri.

Tak hanya belajar mengenal permainan tradisional Indonesia, keempat peserta culture exchange ini juga berkesempatan mengenalkan permainan tradisional dari negara mereka pada anak-anak kampung dolanan.

Permainan yang dikenalkan bernama Coin Game. Fransisco menyebutkan permainan itu adalah permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak di Portugal. Cara bermainnya hampir mirip dengan cublek-cublek suweng.

Dimana salah satu pemain berperan sebagai pemegang koin. Ia memutar ke setiap pemain seolah menyelipkan koin pada pemain lain padahal hanya satu pemain yang diberi koin. Nah, pemain lain yang ditunjuk diminta untuk menebak dimana koin itu berada.

"Biasanya di sana dimainkan menggunakan cincin. Namun karena tidak ada maka menggunakan koin," ucap Fransisco.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved