Senin, 20 April 2026

Berita MalangRaya

VIDEO- Sepintas seperti akan Salat, Lihat Aktivitas Bule-bule ini di Masjid

Astrid Schormann (50), perempuan asal Munich, Jerman, bersama tiga putrinya datang ke Masjid Jendral Ahmad Yani, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Penulis: Eko Darmoko | Editor: Parmin

SURYA.co.id | MALANG – Keberagaman budaya Indonesia selalu terlihat eksotis di mata masyarakat barat. Hal inilah yang menjadi gagasan masyarakat barat untuk menjelajahi dan menekuni keberagaman Indonesia.

Kota Malang pun menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan mancanegara untuk melihat puzzle kecil dari gugusan besar wilayah Indonesia.

Tak hanya kampung-kampung tematik yang sedang ngehits, masjid di Kota Malang juga menarik minat wisatawan mancanegara.

Astrid Schormann (50), perempuan asal Munich, Jerman, bersama tiga putrinya datang ke Masjid Jendral Ahmad Yani, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Rabu (23/8/2017) siang.

Bukan untuk salat, Astrid ke masjid ini untuk mengetahui dan mempelajari geliat Umat Islam di Kota Malang, meskipun ia dan ketiga putrinya beragama Katolik.

Ketiga putrinya; Johanna (15), Paulina (13), dan Carlotta (8) pun terlihat antusias ketika menjejakkan kaki di Masjid Jendral Ahmad Yani. Mereka dipandu oleh Mashur Thalib (54), jemaah masjid yang kebetulan fasih berbahasa Inggris.

“Sebelum ke sini (Masjid Ahmad Yani), kami mengunjungi Candi Singosari. Kemarin kami tiba di Malang,” kata Johanna dengan Bahasa Inggris aksen ala fraulein Jerman ketika membuka obrolan bersama SURYAMALANG.COM, Rabu (23/8/2017).

Dari cerita-cerita Johanna, keluarganya memang suka travelling ke tempat-tempat eksotis yang tidak dijumpainya di Munich, Jerman. Menurutnya, keberagaman budaya Indonesia serupa mata kail yang menariknya untuk mengunjungi Indonesia.

“Sekitar tiga minggu kami di Indonesia. Sebelumnya kami sudah datang ke Kuta, Bali. Kemudian ke Lamongan, dan sekarang di Malang,” ucap Johanna.

“Setelah ini kami akan kembali ke Bali. Di sana ada teman yang menunggu,” timpal Astrid.

Astrid sangat mengagumi masyarakat majemuk Indonesia. Meskipun banyak perbedaan dalam hal agama, suku, bahasa, budaya dan lain-lain, tapi masyarakat Indonesia bisa saling menghormati satu sama lainnya.

“Di Jerman juga ada yang beragama Islam dan ada masjid, tapi sangat tertutup. Tidak terbuka seperti di Indonesia yang masyarakatnya sangat toleran,” ucap Astrid.

Tak hanya melihat-lihat suasana masjid dan sekitarnya, Astrid cs juga belajar teori serta praktek menunaikan wudu dan mengenakan mukena dipandu oleh Mashur Thalib.

Tanpa canggung, mereka pun menjalankan instruksi Mashur saat wudu. Pun ketika mengenakan mukena, mereka juga menuruti instruksi yang diberikan oleh seorang jemaah perempuan.

Mashur juga menjelaskan tata cara salat berjamaah ketika Astrid dan putri-putrinya sudah mengenakan mukena. Sesekali mereka terlihat manggut-manggut ketika mendengarkan penjelasan dari Mashur.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved