Selasa, 14 April 2026

Daya Tarik Bandara Blimbingsari nan Hijau dan Hemat Energi Milik Banyuwangi

Bandara Blimbingsari di Banyuwangi adalah bandara yang terbilang muda di Indonesia. Namun bandara ini sudah menarik perhatian dunia penerbangan..

Penulis: Haorrahman | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Bangunan utama Bandara Blimbingsari yang mengadopsi rumah tradisional masyarakat suku Using. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Meski terbilang baru, namun Bandara Blimbingsari di Kabupaten Banyuwangi telah membuat bangga publik di sana. 

Kebanggaan publik Bumi Blambangan itu disebabkan karena bandara ini memiliki keunikan yang sulit ditemui di bandara lain. Tak heran, bandara ini pun memantik perhatian besar bagi dunia penerbangan di Indonesia. 

Beberapa keunikannya, adalah konsep hijau atau green yang ditawarkan, konsep arsitektur, hingga kemampuannya untuk menghemat energi.  

Menilik sejarahnya, pantas disebut apabila bandara Blimbingsari telah menginspirasi tentang bagaimana keberanian, inovasi, dan kerja keroyokan, mampu memberikan sejarah tersendiri.

Sejarah pertama ditorehkan, saat bandara yang terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi itu resmi dibuka pada 29 Desember 2010. Pembukaan ini ditandai penerbangan komersial perdana, oleh Sky Aviation, dengan pesawat Grand Carravan.

Tidak seperti bandara perintis lainnya yang memberikan subsidi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) pada maskapai, penerbangan Bandara Banyuwangi tanpa subsidi.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas bahkan sempat ragu apakah penerbangan ini nantinya akan berlanjut, atau hanya sekadar bertahan beberapa bulan saja. Mengingat saat itu, pasar belum terbentuk di Banyuwangi.

"Saat itu saya sempat tidak yakin, apakah penerbangan akan terus berlanjut. Apalagi kami non subsidi APBD pada maskapai," kata Anas.

Pada 2 Mei 2011, Sky Aviation melakukan penerbangan perdana dengan pesawat Fokker-50. Diikuti kemudian oleh Merpati Airlines yang terbang perdana pada 24 Agustus 2011. 

Selanjutnya, maskapai-maskapai lain tertarik untuk membuka rute ke Banyuwangi. Wings Air, membuka rute Surabaya-Banyuwangi dan sebaliknya pada 20 September 2012. Garuda Indonesia akhirnya juga masuk ke Banyuwangi, pada 1 Mei 2014.

Frekuensi penerbangan pun kian bertambah. Kini tiap hari ada penerbangan Surabaya-Banyuwangi. Pagi hari dijalankan Garuda Indonesia, dan siangnya dijalankan oleh Garuda dan Wing Air. Ini menjadi sejarah kedua bagi penerbangan Banyuwangi.

"Dari yang awalnya hanya tiga kali penerbangan dalam seminggu, kini tiga kali penerbangan dalam satu hari," kata Anas.

Bupati berusia 43 tahun itu mengatakan, semua Ini tak lepas dari strategi Banyuwangi untuk meningkatkan perekonomian lokal yang turut mempengaruhi penerbangan. Bupati berusia 43 tahun ini mengatakan, untuk membentuk pasar penerbangan, perekonomian lokal harus terbentuk.

Baginya, ini karena perekonomian lokal dan penerbangan merupakan dua sisi yang saling menopang. Itulah sebabnya, Anas membuat banyak program untuk menghidupkan perekonomian daerah, dengan pariwisata sebagai pilar perekonomiannya.

Banyuwangi membuat banyak festival, dan terus mempromosikan destinasi wisata yang dimiliki, untuk menumbuhkan perekonomian lokal.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved