Rabu, 8 April 2026

Punya Anak Multilingual, Donna Agnesia dan Darius Bagi Kiat Parenting

DONNA AGNESIA: Sebisa mungkin kami mengajak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah, bermain pun dengan menggunakan bahasa lnggris.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Yuli
sugiharto
Donna Agnesia dan suaminya Darrius Sinathrya saat berbagi pengalaman cara membesarkan anak yang baik di acara yang digelar oleh EF di Pakuwon Mall Surabaya, Sabtu (15/7/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tumbuh kembang anak sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan potensi anak. Dalam sebuah keluarga, si kakak memiliki karakter berbeda dengan si adik, karenanya cara orangtua merespons kebutuhan masing-masing pun takkan sama.

Karena anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, setiap keluarga juga punya pola asuh yang tak seragam. Pengasuhan yang cocok diterapkan orang lain, belum tentu bisa diaplikasikan keluarga Anda. Namun tak tertutup juga kemungkinan kalau gaya pengasuhan bisa diadaptasi keluarga lainnya.

Hal ini juga dialami pasangan artis ibukota Donna Agnesia dan Darius Sinathrya. Pasangan yang juga brand ambassadors English First (EF) ini harus membesarkan 3 anaknya yang multibilingual atau memahamibahasa lebih daei 1. Dikatakan Donna, ketiga anaknya terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggria setiap hari.

Hal ini tak lepas dari pola asuh keduanya yang rajin memberikan stimulasi bagi ketiga anaknya melalui berbagai cara.

“Sebisa mungkin kami mengajak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah, bermain pun dengan menggunakan bahasa lnggris, lama-lama akhimya anak-anak jadi terbiasa,”ungkap Donna dalam talkshow bertajuk “How to Help Your Kids Learn English” yang digelas English First di Pakuwon mall, Sabtu (15/7/2017).

Namun sebagai orangtua yang sibuk Donna dan Darius menyadari ketiga anaknya membutuhkan lingkungan berbahasa lnggris yang suportif selain di rumah. Apalagi mereka kerap tidak bisa menemani anak-anak belajar atau bermain sepulang sekolah. “Dengan keterbatasan waktu sebagai orangtua yang cukup sibuk, kami mempercayakan EF sebagai partner dalam mendidik ketiga anak kami berbahasa lnggris sejak tahun 2012,” ujar Darius.

Sebagai penyedia jasa kursus bahasa lnggris, EF English First menjadi pilihan para orangtua dalam mendidik anak-anak menjadi generasi multilingual. EF menekankan kurikulum yang berfokus pada perkembangan anak secara individu, dengan melibatkan kegiatan belajar mengajar yang menstimulasi kemampuan anak berbahasa lnggris, baik secara lisan, tulisan, maupun kemampuan mendengarkan.

“Kurikulum dan guru-gum di EF mengakomodir semua kebutuhan anak sesuai usia melalui cara yang menyenangkan, sehingga anak-anak tidak merasa bosan belajar bahasa lnggris. Hasilnya ketiga anak kami mampu berkomunikasi dalam bahasa lnggris dengan percaya diri. Nilai bahasa lnggris mereka di sekolahpun sangat baik,” tutup Darius.

-----

Belajar Banyak Bahasa Penyebab Anak Susah Bicara Hanya Mitos

SURYA.co.id | SURABAYA - Belajar banyak bahasa menyebabkan anak susah bicara merupakN mitos. Hal ini dipaparkan psikolog ternama Roslina Verauli SPsi MPSi. Dikatakannya, mempelajari banyak bahasa kerap menimbulkan language mixing. Tetapi hal ini berbeda dengan penyebab susah bicara, sebab susah bicara merupakan bentuk gangguan tumbuh kembang anak.

“Usia emas anak belajar bahasa diluar bahasa ibunya sebelum usia 6 tahun, bahkan sebelum mereka bisa bicara. Karena mereka sudah merecord semua kosa kata yang didengarnya,”ungkapnya dalam dalam talkshow bertajuk “How to Help Your Kids Learn English” yang digelas English First (EF) di Pakuwon mall, Sabtu (15/7/2017).

Psikolog yang yang biasa dipanggil Vera menekankan bahwa untuk mengoptimalkan upaya penyerapan bahasa asing pada anak dibutuhkan komitmen, konsistensi. Serta system support di sekitar anak. “Orangtua harus menciptakan lingkungan yang mendukung untuk anak bisa mengembangkan kemampuan berbahasa asingnya,”ujar Vera.

Vera menyampaikan bahwa stimulasi merupakan hal mendasar dalam merangsang kecakapan berbahasa asing anak. Beberpa stimulasi bisa dilakukan dengan merespon bunyi-bunyi dari bayi dengan bunyi/kata. Kemudian memberi perhatian dan komentar pada apa yang anak lihat, bermain social games.

“Orang tua bisa terlibat dalam permainan pura-pura serta membuat anak aktif dengan melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari,”lanjutnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved