Sambang Kampung
Pedagang Pasar Gembong, Puluhan Tahun Bertahan meski harus Kucing-kucingan dengan Satpol PP
Meski digemari, nyatanya adanya pasar ilegal ini cukup meresahkan masyarakat, khususnya pengguna jalan.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
SURYA.CO.ID | SURABAYA - Warga Surabaya tentu tahu dan akrab dengan jajaran pedagang yang membuka lapak di sepanjang Jalan Kapasari Kecamatan Genteng Surabaya.
Para pembuka lapak di atas bahu jalan ini cukup digemari dan menjadi jujugan para pencari barang yang ekonomis namun punya kualitas yang lumayan.
Ya, sepanjang Jalan Kapasari dan juga Gembong memang sudah puluhan tahun dijadikan para pedagang untuk membuka lapak. Mulai baju-baju bekas, perkakas dan besi tua, tas, helm, dan aneka kebutuhan yang lain.
Meski digemari, nyatanya adanya pasar ilegal ini cukup meresahkan masyarakat, khususnya pengguna jalan. Jalan di titik tersebut sering kali macet dan menjadi sasaran penertiban Satpol PP.
Rahmatullah, salah satu pedagang di Jalan Kapasari mengaku sering tidak tenang jika berjualan di sini.
"Setiap siang jam setengah dua kami selalu kucing-kucingan sama Satpol PP. Begitu kelihatan mobil Satpol PP langsung gulung tikar barang dagangan masuk ke dalam tas," ucap penjual tas dan helm ini, Selasa (4/7/2017).
Namun setelah Satpol PP pergi dan tidak terlihat, mereka kompak untuk membuka lagi lapak dan dagangan mereka. Hal itu terus menerus terjadi hingga saat ini.
Pria asal Madura ini menyebut ia sudah lebih dari 20 tahun berjualan di pinggir jalan. Mulanya ia berjualan keliling kampung sebelum menetap berjualan di Kapasari.
"Walaupun tidak setiap hari dapat pelanggan, lumayan yah. Rata-rata sampai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu dapat omset segitu," ucap Rahmatullah yang berjualan helm ini.
Menurutnya, selama berjualan di sini mereka tidak dikenai aturan tertentu. Mereka juga tidak dikenai biaya retribusi boleh siapapun. Mereka hanya saling tahu bahwa lapak mereka biasa ada dimana maka itu tempat mereka berjualan.
"Sebulan terakhir ini ada woro-woro kami akan direlokasi. Tapi tidak semua pedagang tahu. Infonya akan dipindah ke Pasar Kapasan, di depan ruko yang sepi," ucapnya.
Akan tetapi ia belum bisa memastikan. Menurutnya, jika ada relokasi, ia menerima saja. Asalkan ada tempat berjualan yang bisa didatangi pembeli, mereka mau dan menurut.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lain di Kapasari, Ismail. Penjual tas koper ini mengaku selama ini berjualan di pinggir jalan tidak pernah merasa tegang. Sebaliknya ia justru santai lantaran banyak pedagang senasib.
"Banyak temannya, kalau waktunya ada razia ya minggir dulu, kalau sudah pergi ya jualan lagi," tutur Ismail.
Menurut Ismail, selama ini pelanggannya tidak pernah protes lantaran mereka berjualan di pinggir jalan. Mereka memiliki segmen pembeli tersendiri yang tahu bagaimana cara transaksi di sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pasar-gembong_20170705_182556.jpg)