Selasa, 21 April 2026

Berita Ekonomi Bisnis

Inflasi Bulan Juni di Jatim Rendah, Penyebabnya TPID Disebut Sukses Jalankan sejumlah Program ini

“Inflasi bulanan pada Juni 2017 kami perkirakan berkisar di 0,54 persen - 0,64 persen, lebih baik dibandingkan momen Ramadan-Lebaran tahun lalu."

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
surya/mujib anwar
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengumumkan inflasi bulan Juni 2017 tercatat rendah. Bahkan momen Ramadan dan Lebaran yang biasanya mengerek harga kelompok bahan makanan, di bulan ini malah rendah.

"Inflasi terendah kelompok makanan di bulan Juni 2017 ini malah mencapai 0,10 persen. Yang membuat inflasi tinggi ada di kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan yang mencapai 0,98 persen," kata Teguh Pramono, Kepala BPS Jatim, Senin (3/7/2017).

Komoditas utama yang membuat inflasi tinggi, antara lain tarif listrik, daging ayam ras, dan tarif kereta api.

Sedang komponen inti pembuat inflasi malah dari makanan jadi, seperti soto dan tahu campur.

"Secara umum, inflasi di Jatim di bulan Juni ini ada di 0,49 persen, dengan laju inflasi naik 2,97 persen, lebih tinggi dibandingkan Juni 2016 yang mencapai 1,08 persen," tambah Teguh.

Sedang Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur memperkirakan tingkat inflasi bulanan pada Juni 2017 yang bertepatan dengan momen Ramadan-Lebaran tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Taufik Saleh, mengatakan berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan pada Minggu ketiga Bulan Juni 2017 didapati kecenderungan harga bahan pokok yang justru mengalami penurunan harga.

“Inflasi bulanan pada Juni 2017 kami perkirakan berkisar di 0,54 persen - 0,64 persen, lebih baik dibandingkan momen Ramadan-Lebaran tahun lalu yang tercatat sebesar 0,76 persen. Salah satu penyebabnya adalah cenderung turunnya harga volatile food,” jelas Taufik.

Menurunnya harga di tengah permintaan yang meningkat pada momen Ramadan-Lebaran tahun ini merupakan buah dari kesuksesan pengendalian harga di daerah sesuai dengan program dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Sebelumnya, sebagai upaya menjaga kestabilan harga menjelang ramadhan dan lebaran, sejumlah langkah dilakukan TPID Jatim yaitu memperkuat Informasi harga dan stok melalui Siskaperbapo, serta penempatan TV di pasar rakyat sebagai media informasi harga.

TPID juga meningkatkan akses bahan pokok melalui gerai stabilisasi harga seperti KIPPAS, Toko Tani Indonesia, e-warung, Rumah Pangan Kita, serta menyelenggarakan operasi pasar mandiri dan operasi pasar bantuan ongkos angkut.

TPID juga melakukan penguatan data dan informasi yang terkait pergerakan komoditas yang saat ini digagas Pemerintah Provinsi Jatim melalui Sistem Informasi Perdagangan Antar Provinsi untuk memperkuat konektivitas antardaerah dan mendorong terwujudnya tata niaga pangan yang efektif dan efisien, serta terjaganya kesinambungan pasokan dan harga.

Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi BI Provinsi Jatim, Dery Rossianto, menambahkan meski inflasi di momen Ramadan-Lebaran tahun ini cenderung terkendali, namun secara umum inflasi Jatim di tahun 2017 masih dibayangi risiko kenaikan administered price khususnya rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif tenaga listrik (TTL).

“Peningkatan tekanan inflasi diperkirakan masih akan terjadi karena adanya rencana kenaikan tarif listrik khususnya untuk pelanggan 900 VA dari Rumah Tangga Mampu (RTM), peningkatan tarif angkutan antar kota dan udara saat Lebaran serta dampak tahunan penyesuaian biaya STNK dan peningkatan harga BBM non-subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia,” jelas Dery.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved