Rabu, 13 Mei 2026

Sambang Kampung

Rasa Penasaran Bikin Warga Asing Kunjungi Situs Joko Dolog

Situs Joko Dolog yang ada di Surabaya bukan hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, tetapi juga oleh wisatawan mancanegara yang datang dari Belanda.

Tayang:
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
Surabaya.tribunnews.com/Achmad Zaimul Haq
Patung Joko Dolog yang merupakan perwujudan Raja Kertanegara terletak di taman Apsari, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Situs Joko Dolog di Surabaya termasuk salah satu obyek wisata penting di Surabaya. Karenanya, tak mengherankan kalau wisatawan pun banyak berkunjung ke situs ini.

Mayoritas wisawatan yang datang ke situs Joko Dolog di kampung Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng ini, justru datang dari manca negara. Tamu langganan adalah warga Belanda.

Penjaga situs Joko Dolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Arif Kurniawan, mengatakan, rata-rata kunjungan wisatawan ke situs ini berkisar 200 orang per bulan.

“Yang berkunjung sebenarnya campuran. Ada dari etnis Tionghoa, Jawa, tetapi banyak yang dari manca negara, terutama dari Belanda. Kalau kunjungan kapal pesiar, pasti mampir ke sini,” kata Arif.

Ia menyebutkan, rata-rata warga asing yang datang lantaran penasaran. Ada hubungan antara mereka dengan situs ini karena bangsanya telah ratusan tahun menjajah Indonesia. Arca ini tidak ada di museum di Belanda.

“Mereka banyak mengambil foto di situs ini. Namun kalau wisatawan lokal, banyak yang datang dengan niat tertentu. Ada yang ingin diberi kemudahan rezeki, jodoh, pekerjaan. Tergantung keyakinan mereka,” ulasnya.

Pengelola sendiri saat ini terus melakukan perawatan. Arca yang ada di situs Joko Dolog ini selalu dibersihkan, agar tidak ditumbuhi lumut dan terus bersih.

Selain itu mereka aktif menyapu dan mengepel pendopo yang diduduki patung perwujudan Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singosari.

“Pengunjung yang datang kemari banyak berbuat baik. Misalnya menyediakan dupa dan minyak,” ujarnya.

Situs ini sudah disahkan Pemkot Surabaya sebagai cagar budaya. Menurut Arif, situs ini harus dijaga lantaran menjadi bukti kekayaan yang tak lepas dari sejarah Kerajaan Majapahit. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved