Pesona Ramadan
Dermaga Tuban Tempat Pendaratan Para Wali di Jawa
Sejarah mencatat, tempat ini adalah dermaga atau pelabuhan besar tempat transitnya perdagangan antarpulau di masa Kerajaan.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Parmin
SURYA.co.id | TUBAN – Pantai Boom di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, saat ini lebih dikenal khalayak sebagai objek wisata. Di luar itu, tempat ini juga punya cerita sejarah yang cukup mendalam. Kisah yang santer disampaikan, pantai ini adalah dermaga tempat para wali berlabuh di Pulau Jawa.
Sepanjang mata memandang, sudah tak tampak bangunan-bangunan atau peninggalan sejarah Islam saat ini. Saat Surya.co.id berkunjung ke sana, Minggu (4/6/2017) sore, tempat ini banyak dikunjungi orang yang ingin berwisata sambil ngabuburit.
Bangunan-bangunan anyar banyak berdiri setelah pengelolaan pantai dipegang oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tuban. Pada 12 November 2010, Bupati Tuban saat meresmikan tempat tersebut. Di pintu masuk, bangunan berbentuk kapal besar seolah menyapa. Jalan setapak sepanjang bekas dermaga juga sudah berupa jalan paving.
Air laut dipantai tersebut pun tanpak gelap dari kejauhan. Tak ada ombak tinggi dan semriwing angin laut. Keelokan objek ini jauh ketinggalan apabila dibanding dengan objek wisata pinggir laut lain di sepanjang pantai utara, seperti di Kabupaten Gresik.
Sejarah mencatat, tempat ini adalah dermaga atau pelabuhan besar tempat transitnya perdagangan antarpulau di masa Kerajaan Airlangga, Singasari, dan Majapahit. Raja terakhir Singasari Sri Maharaja kertanegara diceritakan pernah memberangkatkan ekspedisi penaklukan Malayu pada 1279 Masehi. Ceritai ini terhimpun dari Kitab Pararaton, sebagaimana dituliskan kembali oleh pihak pengelola tempat wisata pada sebuah marmer yang tertempel di beberapa titik Pantai Boom.
Lewat ekspedisi yang dikenal dengan strategi Cakrawala Mandala itu, Shingasari ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara guna membendung perluasan Dinasti Yuan Semasa Kaisar Shin-tsu.
Cerita lain yang tak kalah tersoroh di dermaga itu, yakni pendaratan Pasukan Tar-tar tahun 1293 M. Pasukan tersebut dikisahkan datang untuk menghukum Singhasari atas penolakan tahluk pada kekuasaan Mongolia. Ketika itu, Raden wijaya dan Raden Arya Ronggolawe (keturunan Singhasari) mempengaruhi Pasukan Tar-tar untuk menyerang Kediri.
Kediri saat itu telah mengalahkan singasari. Setelah menang dari Kediri, Pasukan Tar-tar tahluk pada pasukan dua raden tersebut.
Di tahun yang sama, Pelabuhan Tuban itu menjadi pelabuhan niaga Internasional setelah Raden Wijaya dinabsihkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardana tanggal 12 November. Ia sekaligus menganugerahi Raden Arya Ronggolawe gelar Mantri Amancanegara.
Kisah pelabuhan kuno tersebut menjadi salah satu jejak Islam baru bermula pada abad ke-15. Di masa Majapahit berjaya, tempat itu sekaligus menjadi pintu masuk penyebaran Islam di Jawa.
Syahdan, para wali dikisahkan mendarat di sana untuk menyebarkan agama Islam. Mereka merapat di dermaga yang kini sudah menjadi objek wisata tempat para wisatawan duduk-duduk memandang laut.
“Para wali dulu dikisahkan di situ minggirnya untuk datang ke Pulau Jawa. Tapi orang tidak disebut siapa saja (wali dan para santrinya),” kata Ichwan Hadi, salah seorang petugas di Makam Sunan Bonang, kemarin.
Ia mengaku mendapat kisah tersebut dari cerita-cerita tutur yang berkembang di masyarakat. “Penyerangan pertama dari Pasukan Tar-tar di situ juga,” ungkapnya. Ia bahkan mengaku pernah mendengar cerita bahwa di sekitar Pantai Boom ada makam-makam santri para wali yang mendarat di sana. Namun, kisah ini belum tertulis dalam sejarah yang ada.
Pegawai di makam Sunan Bonang lain mengisahkan, Pantai Boom juga pernah menjadi tempat bertemunya Sunan Bonang dengan ahli agama asal India. Konon, Sunan Bonang saat itu sudah termasyhur sampai ke negeri-negeri sebrang. Ahli agama itu pun ingin bertemu Sunan Bonang dan mengadu ilmu atau kesaktian.
“Ada peninggalan sumur yang dikaitkan dengan cerita tersebut. Tapi kebenaran cerita itu belum masih belum pasti,” kisahnya.