Sambang Kampung
Ubah jadi Kampung Murup, Kelurahan Kedungdoro Lestarikan Budaya Lokal lewat Mural
Tak ingin tergerus oleh wajah pertumbuhan kota, kampung Kedungdoro gang III di Surabaya kini bermetamorfosa melalui mural. Seperti ini wajahnya kini..
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Ada pemandangan yang berbeda ketika Surya.co.id menyambangi kampung RT 3 RW 11 Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya.
Di salah satu gangnya, yaitu di Kedungdoro Gang III, dua minggu belakangan menjadi ramai oleh orang-orang yang berfoto untuk mengunggahnya ke media sosial Instagram.
Ya, kampung ini memang baru bermetamorfosa. Dinding- dinding kampung yang awalnya polos kini sudah berubah warna-warni. Di balik warna-warni itu, terselip pesan tentang budaya asli Surabaya.
Seperti mural tokoh Gombloh, Ucok Aka, dan Ahmad Albar, yang merupakan tokoh asli Surabaya. Lalu, mural aksara Jawa dan permainan tradisional. Tak ketinggalan, mural kue cum-cum yang jadi unggulan kampung ini.
Dengan perubahan wajah itu, kini warga setempat menamakan kampung mereka 'kampung murup'. Bukan hanya identitas nama saja, kampung ini memiliki kekhasan ornamen lampu yang membuat kampung mereka terang dan cantik.
Ornamen lampu itu dibuat dari pipa paralon yang diukir. Caranya, dengan dibakar terlebih dulu, kemudian diukir dengan bentuk yang unik. Baru diberi aplikasi lampu.
"Kampung Murup ini baru diresmikan pada 20 Mei 2017. Yang punya inisiasi, anak anak muda penyuka mural di sanggar kampung kami, Teras Warna," ujar Ketua RT 3, Sulistyowati, Minggu (28/5/2017).
Upaya ini menurutnya, merupakan keinginan mengubah citra negatif kampung selama ini. Selain itu, upaya mempertahankan eksistensi kampung yang semakin terkikis kemajuan kota.
"Dulu dinding ini nggak ada. Dulu masih ada RT 1, jadi ada gang I dan gang III. Sekarang tinggal gang III saja, itu pun tinggal 80 KK, padahal dulu 300 KK, habis dibeli pengembang," kata wanita yang akrab disapa Lis ini.
Ia menyebutkan, warga gang III sepakat untuk tidak dibeli pengembang. Dinding kokoh pun dibangun membatasi kampung dengan area komersil, yang membuat kampung mereka semakin tersisih.
"Kami senang sekarang kampung sudah ada muralnya dan ada lampu-lampu ornamen khas Kampung Murup. Kampung jadi lebih ceria," ulas Lis.
Bertahan
Pemilik sanggar Teras Warna, Faisal Yonaf, mengatakan, butuh tiga minggu untuk menyelesaikan mural Kampung Murup. Dinding sepanjang 125 meter itu tidak hanya dilukis arek-arek kampung saja.
"Selain Teras Warna, juga ada sejumlah komunitas mural lain, seperti dari Girilaya, komunitas Uthek Bocor, Bonek Kaliasin MC Goffin dan juga Gerakan Peduli Anak," papar Faisal.
Ia juga menyebut, upaya ini untuk mempertahankan kampung secara cerdas dari penggusuran tengah kota. Saat membuat mural, pihaknya memberi kebebasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/mural-kedungdoro_20170528_204612.jpg)