Rabu, 29 April 2026

Agnestasia Widia Kurniawati, Mahasiswi Surabaya Penemu Antibiotik dari Ranting Manggis

Mahasiswa dari Surabaya ini berhasil menemukan cara membuat antibiotik dari bahan ranting pohon manggis.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Eben Haezer Panca
Surabaya.tribunnews.com/Habibur Rohman
Mahasiswa Farmasi UKWMS, Agnestasia Widia Kurniawati menunjukkan karyanya berbahan rating buah manggis yang mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus Aureus. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Merasa penasaran dengan khasiat buah manggis, Agnestasia Widia Kurniawati tak berhenti membaca jurnal terkait buah yang punya bermacam khasiat itu.

Akhirnya, dari salah satu jurnal yang ia baca, Agnes menemukan pengetahuan baru bahwa ranting manggis (Garcinia Mangostana L) juga memiliki manfaat yang hampir sama dengan kulit manggis.

Fakta ini membuat Agnes, panggilan akrab perempuan berambut panjang ini meneliti ranting manggis lebih lanjut. Khususnya untuk keperluan tugas akhirnya di Fakultas Farmasi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

"Saya coba meneliti menggunakan fungi (jamur) endofit dari ranting tanaman buah manggis, untuk menemukan senyawa yang mempunyai aktifitas bakteri terhadap Staphylococcus aureus," terangnya, Jumat (21/5/2017).

Agnes menjelaskan, senyawa itulah yang bisa jadi formula awal untuk pembuatan antibiotik.

Selama setahun, dalam proses penelitian Agnes mengaku berhasil menemukan senyawa alkaloid dan terpenoid dari ranting tanaman buah manggis.

"Dua senyawa aktif itu dapat digunakan sebagai bahan aktibakteri. Sekarang kan memang sedang marak berbagai inovasi obat, vitamin, hingga suplemen yang mengambil khasiat dari buah atau kulit. Masih jarang penelitian yang memanfaatkan ranting buah manggis,” tambahnya.

Sebagai proses awal penelitiannya, Agnes menjelaskan memotong ranting manggis terlebih dahulu. Ranting manggis lalu disterilkan menggunakan natrium hipoklorit dan etanol. Kemudian potongan ranting tersebut ditanam di media guna menumbuhkan fungi, lalu difermentasi selama kurang dua minggu.

Pada proses fermentasi tersebut, mahasiswa kelahiran Mojokerto ini menemukan tiga jenis fungi.

“Ketiga fungi ini lalu dipisah untuk mengetahui, fungi mana yang memiliki aktivitas bakteri paling besar,” jelasnya.

Setelah ditemukan, salah satu dari fungi itu kemudian difermentasi kembali selama dua minggu di media kentang dengan tambahan pepton, ragi, dan dekstrosa.

"Penggunaan pepton membuat pembiakan mikroorganisme seperti fungi dapat tumbuh dengan baik. Proses demi proses terus dilakukan hingga akhirnya fungi mengeluarkan senyawa, yang kemudian melalui fraksinasi atau proses pemisahan berdasarkan sifat kepolaran suatu bahan," terangnya sambil menunjukkan fungi hasil penelitiannya.

Agnes menuturkan, penelitian semacam ini memang membutuhkan kesabaran besar. Ini mengingat hasil penelitian bidang mikrobiologi tidak bisa dilihat secara langsung.

"Harus sabar dan telaten, benar-benar menguras pikiran. Karena memang butuh waktu dan pengujian beberapa kali," keluhanya namun dengan tersenyum.

Setelah ini Agnes berharap hasil penelitiannya itu dapat ditindak lanjut, pada tahap ifentifikasi struktur senyawa kimia. Sehingga bisa diketahui struktur kimia dan sifat senyawa tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved