Berita Surabaya
Masih Ingat Engkle atau Lompat Tali? Permainan Tradisional Ini akan Dimainkan di PAUD dan SD
Egrang, engkle, lompat tali dan juga gobak sodor kini hampir asing untuk dimainkan anak-anak generasi millenial.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Semakin majunya teknologi, game, dan juga gadget membuat permainan tradisional menjadi tersisih di kalangan anak-anak.
Egrang, engkle, lompat tali dan juga gobak sodor kini hampir asing untuk dimainkan anak-anak generasi millenial.
Tak ingin permainan warisan budaya Indonesia itu semakin terkikis, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mewajibkan edukasi permainan tradisional untuk anak-anak yang duduk di bangku PAUD hingga SD.
"Permainan engkle, yang mainnya pakai menggambar kotak di tanah dan melangkah dengan satu kaki itu, kalau dimainkan anak-anak ternyata bisa meningkatkan kecerdasan motorik," kata Risma dalam acara Rapat Kerja Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakaat Indonesia (FORMI) Kota Surabaya, di Graha Sawunggaling, Kamis (11/5/2017).
Karena itu penting menurutnya untuk tetap melestarikan permainan yang diwariskan dari nenek moyang satu ini.
Terutama lantaran permainan tersebut juga termasuk olahraga yang bisa meningkat kesehatan dan kecerdasan anak.
"Saya akan buat surat edaran agar FORMI kecamatan di Surabaya bisa turun ke PAUD sampai SD untuk membantu menggalakkan permainan tradisional ke anak-anak," ucapnya.
Tidak hanya menaruh perhatian ke permainan tradisional, saat ini Risma menyebutkan, ia sedang membuat permainan tradisonal yang digabungkan dengan teknologi.
Permainannya akan diterapkan di smartphone. Konsepnya adalah mencari tempat-tempat ikonik Surabaya dengan berbasis manhole yang ada di pedestrian.
"Jadi misalnya mereka mau ke balai kota, cukup mencari peta manhole lalu jalan mengikuti arahan dari smartphone game ini," ujarnya.
Menurutnya, menggalakkan olahraga dan permainan tradisional ini bukanlah hal yang kuno.
"Nggak kuno lah, kita terus galakkan supaya anak-anak tertariik dengan permainan tradisional," tegasnya.
Jika anak-anak Surabaya sehat, warga Surabaya sehat, maka diharapkan bisa meningkatkan kualitas masyarakat Kota Pahlawan.
Ini terbukti dengan usia pensiun 56 tahun di Surabaya masih terlihat muda dan dikatakan Risma masih banyak yang ingin mencari kerja.
"Kalau warganya sehat, maka harapannya ke depan akan lebih banyak yang tertarik untuk investasi di Surabaya," tandas Risma.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tri-rismaharini_20170511_132231.jpg)