Selasa, 28 April 2026

Berita Surabaya

Tak Perlu Antre, Warga Penerima Bantuan Pangan Kemensos Cukup Tunggu di Rumah

Kemensos akan memperkenalkan fitur baru untuk mendukung penyaluran pangan non tunai. Lewat program ini, penerima bantuan tak perlu lagi antre..

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
Surabaya.tribunnews.com/Fatimatuz Zahroh
Kemensos Khofifah Indar Parawansa 

SURYA.co.id | SURABAYA – Penyaluran bantuan pangan non tunai (BNPT) oleh Kementerian Sosial terus disempurnakan. Mulai bulan depan, keluarga penerima manfaat BNPT tidak perlu pergi ke e-warung untuk membelanjakan bantuan dari pemerintah.

Mereka cukup menunggu di rumah dan akan ada motor bergerak yang akan menghampiri keluarga penerima manfaat. Mereka akan membawa mesin electronic data capture (EDC) dan belanjaan yang ada di e-warung.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menegaskan, sistem motor bergerak untuk program BNPT ini akan aktif per tanggal 2 Mei 2017 mendatang.

“Kami sedang menyiapkan proses pelayanan proaktif yaitu dengan pelayanan penjangkauan. Kami sudah komunikasikan Kementerian BUMN dan empat bank Himbara. Sebab sekarang itu di beberapa toko kelontong belanja Rp 50 ribu diantar ke tempat. Padahal BNPT ini Rp 110 ribu lho nilainya,” kata Khofifah, di acara Bimbingan Teknik Pendampingan BNPT di Hotel Mercure, Rabu (19/4/2017).

Oleh sebab itu, Khofifah tidak ingin sistem BNPT kalah dengan sistem toko kelontong sehingga diluncurkan program motor bergerak tersebut.

Menurutnya, Kementerian BUMN dan juga Bank Himbara sudah sepakat untuk menerapkan sistem motor bergerak. Mereka akan membawa EDC dan bisa mendatangi keluarga penerima manfaat.

“Tidak lama lagi keluarga penerima maanfaat akan jadi raja dan ratu yang dilayani. Mereka tidak harus mengantre dan berkeringat. Tapi mereka akan dilayani motor berdgerak yang mmebawa EDC dan di rombongnya ada beras, minyak goreng, gula dan seterusnya,” katanya.

Sebagai percontohannya akan diterapkan di Solo, Mojokerto, dan beberapa kota lain. Surabaya akan termasuk namun masih dalam tahap penyiapan. Di Surabaya setidaknya ada 39 ribu penerima manfaat BNPT.

“Sistemnya akan simple. Kayak mlijo (pedagang sayur keliling) itu lho, simpel sekali. Bedanya mereka bawa EDC dan bayarnya pakai kartu yang mengisi uang di kartunya adalah pemerintah sebesar Rp 110 ribu per bulan,” tandasnya.

Untuk yang menjalankan motor bergerak itu bisa jadi bukan pemilik e-warung. Melainkan disupport oleh CSR bank Himbara. Namun itu bukan aturan baku. Misalnya di Solo, dikatakan Khofifah, yang menjalankan motor bergerak adalah amil zakat.

“Memang tidak disediakan dari APBN, tapi bisa bervariasi sesuai kesepakatan daerah. Di Surabaya misalnya, saya yakin akan banyak pihak yang bisa diajak kerjasama untuk men-support porgram ini,” tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved