Berita Gresik
Tradisi Baca Kitab Kuning Bisa Jauhkan Santri dari Hal-hal seperti ini
“Santri yang membacanya akan memahami makna dari kitab kuning. Sehingga mereka tak mudah terpengaruh."
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Parmin
SURYA.co.id | GRESIK - Kegiatan membaca kitab kuning dapat mengatasi permasalahan bangsa.
Misalnya, permasalahan teranyar, yakni radikalisme yang berujung aksi terorisme mengatasnamakan agama.
Hal ini dikatakan Ketua DKC Garda Bangsa Gresik, Sholahuddin Alayyubi, di sela-sela pembukaan Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) tingkat Gresik di DKC Garda Bangsa Gresik, Jumat (14/4/2017).
Menurutnya banyak filosofi dalam kandungan di dalam kitab kuning yang pastinya dapat menambahkan pahaman beragama secara baik.
“Santri yang membacanya akan memahami makna dari kitab kuning. Sehingga mereka tak mudah terpengaruh dengan ajakan bertindak radikal yang berujung terorisme,” ujar Sholahuddin Alayyubi.
Sholahuddin Alayyubi menerangkan adanya kegiatan membaca kitab kuning ini sebagai bukti santri di Gresik dan Lamongan masih menghargai dan memahami Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja).
Keikutsertaan mereka itu juga sekaligus ikut melanjutkan tradisi gemar membaca kitab kuning yang nantinya akan menghindarkan mereka dari perbuatan radikalisme.
"Karena santri yang suka membaca kitab kuning, maka mencintai plurasisme dan toleransi. Secara tidak langsung akan terhindar dari pengaruh radikalisme," ungkapnya.
Sedangkan, Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik, KH Chusnan Ali menyebut ada banyak filosofi yang terkandung di dalam kitab kuning. Menurutnya, kitab kuning selain menjadi tradisi literasi santri di pondok pesantren, ternyata juga mempunyai kontribusi dan sumbangsih terhadap perjalanan bangsa Indonesia.
“Kita kembali ke sejarah saat Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya mencari rumusan untuk membentuk negara Indonesia. Pendiri NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari menawarkan rumusan negara yang menjunjung toleransi dan pluralisme sesuai dengan literasi kitab kuning,” terang KH Chusnan Ali.
KH Chusnan Ali menerangkan ketika itu KH Hasyim Asyari saat memberikan rumusan Resolusi Jihad dan mensinergikan kitab kuning sebagai literasi, bagi warga Indonesia yang berada di radius 90 kilometer kala itu wajib ikut berjihad dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Jadi, banyak kitab sakti yang dimiliki NU. Ketika merumuskan Resolusi Jihad, tak ada yang menentangnya,” ungkapnya.
Menurut dia, acara Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) itu terkesan tak ada korelasi antara NU dengan Garda Bangsa. Namun faktanya kedanya mempunyai nilai dan cerita historis yang sama.
Sedangkan, Ketua DPC PKB Gresik Moh Qosim pihaknya sangat mengapresiasi adanya kedigatan ini. Sebab, Musabaqoh Kitab Kuning (MKB) baru pertama kali digelar oleh DKC Garda Bangsa Gresik. Ternyata peserta paling banyak apabila dibandingkan kegiatan serupa di Jawa Timur.
Bahkan, pesertanya tidak hanya dari pesantren di Kabupaten Gresik melainkan ada juga yang dari Kabupaten Lamongan.
“Ada tiga pesantren dari Lamongan yang mengirimkan santrinya sebagai peserta,” ucap Moh Qosim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/gresik-baca-kitab-kuning_20170414_205027.jpg)