Liputan Khusus Bocah Berprestasi
Mantan Atlet Bulutangkis Dukung Anak Pilih Taekwondo
Sebagai atlet bulutangkis, wajar kalau Hadi ingin anaknya ikut jejaknya. Tapi dia legowo ketika mereka justru pilih Taekwondo. Hasilnya tak sia-sia...
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Eben Haezer Panca
Peran keluarga memang cukup besar dalam mengarahkan bakat dan minat anak. Tetapi, orangtua tidak bisa memaksakan anak untuk menuruti obsesi orangtua. Pengalaman ini pernah dialami Hadi Sugianto, mantan atlet bulutangkis nasional.
SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagai mantan atlet bulutangkis, awalnya Hadi punya obsesi mendidik anak-anaknya mengikuti jejaknya sebagai pemain bulutangkis. Tetapi, ternyata anak-anaknya kurang berminat dengan bulutangkis. Anak-anaknya justru memilih olahraga beladiri taekwondo.
"Saya tidak bisa memaksa anak-anak mengikuti jejak saya. Biarkan mereka menemukan bakatnya sendiri," kata pria yang tinggal di Wonorejo Indah Timur, Surabaya ini, Kamis (9/3/2017).
Ia memiliki tiga anak dan semuanya laki-laki. Anak pertamanya, Diva Fitra Mahendra (17), masih kelas 2 MAN. Anak pertamanya ini pernah mendapat dua emas di kejuaraan taekwondo. Medali emas pertama didapat dari kejurnas DBL pada 2016, lalu medali emas kedua diperoleh dari kejuaraan taekwondo Malang Open Turnamen pada 2017.
Putra keduanya, Muhammad Rafli (14), juga menjadi atlet taekwondo. Putra keduanya masih kelas 1 SMP. Meski belum sehebat kakaknya, putra keduanya pernah lolos semi final di kejurnas taekwondo dan dapat medali perak di Malang Open Turnamen.
Sedang putra ketiganya, Ahmad Faril (9), sekarang juga lebih rajin berlatih taekwondo ketimbang bulutangkis. “Banyak teman-teman saya yang kaget dan bertanya-tanya. Kok bisa anak-anak saya justru memilih olahraga beladiri, bukan bulutangkis,” katanya.
Wajar teman-teman Hadi bertanya-tanya seperti itu. Sebab, selama ini, Hadi memang dikenal sebagai atlet bulutangkis. Ia sudah menorehkan sederet prestasi nasional.
Setelah pensiun menjadi atlet, ia melatih klub bulutangkis Surya Naga sejak 1998 sampai sekarang (2017). Surya Naga merupakan klub bulutangkis legendaris dari Surabaya dan banyak melahirkan atlet nasional.
Pada 2003, ia juga dipercaya sebagai pelatih nasional bulutangkis tim ganda putri Indonesia. Lalu, pada 2004 sampai 2006, ia menjadi pelatih tim nasional bulutangkis di India.
Berkat prestasinya di bulutangkis, ia juga diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada 2008. Sekarang selain aktif di Surya Naga, ia juga menjabat sebagai kepala sub bidang pendidikan dan pelatihan atlet di Pemprov Jatim.
“Dari dulu sampai sekarang saya memang lebih dikenal sebagai orang bulutangkis,” kata pria kelahiran Oro-oro Dowo, Kota Malang.
Hadi sudah mulai mengenalkan olahraga bulutangkis ke anak-anaknya sejak kecil. Ia sering mengajak anak-anaknya ikut latihan bulutangkis di Surya Naga. Dari situ, ia melihat anak-anaknya kurang berminat di bulutangkis.
“Kalaupun dipaksakan ke bulutangkis malah tidak bisa berkembang. Akhirnya saya membebaskan anak-anak untuk memilih sendiri minatnya di olahraga. Ternyata mereka cenderung berminat di beladiri. Dan benar, mereka bisa cepat meraih prestasi di beladiri,” ujarnya.
Untuk mendukung minat anak-anaknya itu, Hadi akhirnya mendirikan tempat latihan taekwondo atau dojang di rumahnya. Ia mendirikan dojang bersama beberapa orangtua lain yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Tempat latihannya paling sering di rumahnya. Tetapi, tak jarang ia meminjam garasi milik tetangganya yang disulap menjadi tempat latihan taekwondo.
“Dojang-nya saya beri nama Aldino Taekwondo Sport. Muridnya masih sekitar 15 anak,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tak-paksa-anak-bergelut-di-bulutangkis_20170316_211311.jpg)