Fenomena Skip Challenge
Sekolah di Malang Larang Pelajarnya Lakukan Skip Challenge
Sekolah di Malang melarang para siswa melakukan tantangan skip challenge yang sedang viral di media sosial karena menganggap aksi ini berbahaya.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | MALANG - Kepala SMAN 8 Malang, Sulthon, melarang para siswa melakukan aksi skip challenge yang kini viral di media sosial.
Larangan itu diberlakukan karena sekolah menganggap aksi tersebut berbahaya dan berisiko tinggi. Dalam tantangan skip challenge, satu atau beberapa orang akan mendorong temannya ke dinding dan menekan dadanya.
Sesaat setelah itu dilakukan, orang yang didorong akan merasa berkunang-kunang, pingsan, bahkan kejang-kejang. Pingsan ini terjadi lantaran asupan oksigen ke otak berhenti sejenak.
"Saya melarang keras permainan itu. Segera saya informasikan ke orangtua," kata Sulthon yang juga mengaku baru tahu adanya aksi semacam itu di media sosial, Jumat (10/3/2017).
"Sungguh caranya tidak mendidik dan membahayakan. Bila terjadi sesuatu di luar pantauan kita, sekolah tidak bertanggungjawab," sambungnya.
Kepala SMAN 10 Malang, Dwi Lestari juga berpendapat sama. Dia menyatakan tidak menyetujui permainan itu.
"Saya juga sudah meminta siswa untuk tidak mencoba. Kepada guru kembali saya titip pesan ke siswa agar jangan mencobanya," tutur Dwi.
Namun ia belum tahu apakah siswanya sudah ada yang melakukan atau tidak. Sebab ia belum menerim laporan.
"Saya berharap siswa SMAN 10 berpikir cerdas , agar tidak menyakiti dirinya maupun temannya," kata mantan Kepala SMKN 6 ini.
Kepala SMPN 18, Budi Santoso juga pada upacara bendera Senin lalu (6/3/2017) juga sudah menyampaikan ke siswa mengenai bahaya skip challenge dan wali kelas mengingatkan lagi.
Baca: Antisipasi Aksi Skip Challenge, ini yang Dilakukan Polrestabes Surabaya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/skip-challenge_20170310_164342.jpg)