Berita Banyuwangi
Mengenal Lebih Dekat Suasana di Bandara Banyuwangi, Seperti Ini Keunikannya
Konsep artistektur bandara mengusung tiga tujuan. Pertama menjadi ikon baru yang bisa mendukung pengembangan pariwisata.
Penulis: Haorrahman | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | BANYUWANGI - Bandara Blimbingsari Banyuwangi telah menyita banyak perhatian.
Tokoh nasional, arsitek, wisatawan, dan publik memuji konsep Green Airport yang diusung dalam pembangunannya.
Tidak seperti terminal bandara pada umumnya di Indonesia, yang banyak dipenuhi kaca, Bandara Blimbingsari menyuguhkan karya anti mainstream.
Pembangunan terminal pun menggunakan dana APBD, tidak menggunakan anggaran pusat.
Konsep bandara pun dibuat sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia saat bepergian.
Pengantar penumpang ditempatkan di anjungan yang terletak di lantai atas, untuk mengakomodir budaya masyarakat yang ingin melihat keluarganya pergi.
"Budaya masyarakat Indonesia itu, ingin melihat keluarganya naik ke pesawat dan setelah itu dadadada (melambaikan tangan). Sehingga kami buat anjungan di atas terminal, dan pengantar penumpang bisa masuk ke sana. Agar mereka bisa melihat keluarganya hingga naik pesawat," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Konsep artistektur bandara mengusung tiga tujuan. Pertama menjadi ikon baru yang bisa mendukung pengembangan pariwisata.
Kultur Suku Using, yang menjadi suku asli Banyuwangi juga diakomodir.
Atap terminal bandara mengadopsi atap rumah Suku Using. Terdapat dua atap dengan arah yang berlawanan, menandatakan keberangkatan dan kedatangan.
Kedua, bandara sebagai transfer pengetahuan dari arsitek nasional ke lokal. Bandara ini dirancang oleh arsitektur kenamaan Andra Matin.
Diharapkan secara bertahap, arsitek lokal bisa mencontoh. Bangunan di Banyuwangi memiliki konsep dengan arsitektur yang khas sederhana namun ikonik.
Ketiga, secara fungsi bisa terjaga dan efisiensi. Itulah yang membuat bandara memilih arsitektur bandara hijau (green arsitektur). Pemilihan konsep ini bukan tanpa alasan.
Konsep ini sesuai dengan iklim tropis Indonesia, efisien dalam pengelolaan dan pemeliharaan, mengoptimalkan sumberdaya lokal dan materal ramah lingkungan, memanfaatkan vegetasi untuk meminimalisir panas, dan mengelola limbah untuk keberlanjutan sumberdaya.
Ini sesuai dengan program SDGS (sustainable development goals), yang merupakan agenda dunia menuju 2030. Di mana salah satunya memalui inovasi infrastruktur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-banyuwangi-bandara-blimbingsari2_20170120_153149.jpg)