Senin, 18 Mei 2026

Citizen Reporter

Memuseumkan Museum Anjuk Ladang Nganjuk

sama seperti usia ragam benda yang disimpan, perlahan namun pasti museum mulai ditinggalkan generasi yang gagal paham sejarah bangsanya..

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
imam nugroho/citizen reporter
Museum Anjuk Ladang Nganjuk 

Reportase Imam Nugroho
Karyawan swasta/pegiat literasi/pehobi fotografi

SAYA begitu menyukai judul di atas. Bukan untuk memprovokasi, melainkan, pertama, selain ada kesan pesimistis terhadap eksistensi museum daerah yang terkesan meredup, juga yang kedua, menjadi motivasi bagi masyarakat untuk merevitalisasi semangat cinta sejarah melalui museum.

Salah satunya adalah berkunjung ke Museum Anjuk Ladang, Nganjuk. Lokasi museum yang menyimpan beberapa peninggalan Kerajaan Singhasari dan Majapahit ini, tak sulit untuk ditemukan.

Berada di antara gedung perwakilan rakyat dan kantor instansi pemerintah daerah Nganjuk atau sebelum Terminal Anjuk Ladang.

Memasuki halaman museum yang dulunya kantor dinas budaya dan pariwisata daerah Nganjuk, terpajang beberapa batu ukir peninggalan kerajaan tempo dulu di hampir sudut halaman museum.

Replika prasasti Jayastambha sebagai cikal bakal berdirinya Kota Nganjuk. Terbaca: “…parnaha nikanan Imah unwana san hyan prasada atêhêra jaya(sta)mbha wiwit matêwêkniranlahakan satru(nira)(haj)ja(n) ri (ma)layu..”

Yang diartikan, ... di tempat ini [yang telah terpilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan, [di sanalah] pertama kali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya raja dari Malayu (kutipan A. 14-15), terlihat lebih dominan di antara bukti-bukti otentik lainnya.

Prasasti berdimensi 209x102x74 cm yang dibangun atas prakarsa Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa (10 April 937 M) ini, diapit dua kereta, menempati lahan paling depan, persis sebelum masuk ke bangunan utama di belakangnya.

Memasuki ruang galeri, saya terkesan dengan keramahan Ibu Ani, petugas Balai Perlindungan Cagar Budaya Mojokerto yang berkenan mempersilakan pengunjung masuk meski hari Minggu tak ada jadwal buka.

Di dalam ruang museum yang berdiri di atas lahan kurang lebih 2630 m persegi ini, menyimpan benda-benda bersejarah. Seperti, lingga, yoni, terakota, patung/arca, fosil binatang purba, serta beberapa foto era perjuangan fisik melawan kolonial Belanda.

Menjadikan museum sebagai ladang ilmu pengetahuan masa lalu dan riset merupakan hal mutlak dilakukan oleh semua pihak dalam rangka menyelamatkan dan melestarikan sejarah peradaban Kota Nganjuk.

Menggantungkan kelangsungan hidup museum pada instansi tertentu bukanlah masanya. Perlu kerjasama erat dan menumbuhkan rasa peduli dalam merawat eksistensi museum kelak di kemudian hari.

Jika tidak, jelas kita  sedang menyiapkan diri untuk memuseumkan Museum Anjuk Ladang itu sendiri. Lebay? Ah tidak juga.

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved