Citizen Reporter
Arca Ganesha Torongrejo Batu Penolak Balak Tempuran Kali Lanang dan Kali Brantas
kenapa harus arca Ganesha yang diletakkan di gapura menyambut tetamu? atau ditempatkan di kawasan berpotensi bahaya? ini dia penjelasannya..
Reportase Aditya Fajar U
Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang
ADA yang unik ketika memasuki wilayah Batu. Anda akan disambut gapura pembatas wilayah sekaligus gapura selamat datang berhiaskan arca gajah berlengan empat di tiap relungnya dan hiasan buah apel di atas gapura yang cukup menandakan bahwa Anda akan masuk ke kota apel.
Minggu (24/12/2016) lampau, blusukan bersama dua teman, Somastha (mahasiswa Vokasi Pariwisata Universitas Brawijaya) dan Fathur (mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang) sebagai penunjuk jalan sekaligus narasumber.
Sebagai warga asli Batu, Somastha mengarahkan ke situs sejarah di tengah persawahan. Letaknya cukup bisa diakses dan dekat dengan jalur alternatif Batu-Malang melalui Dusun Tutup, Torongrejo.
Ia menunjuk arca Ganesha Torongrejo yang oleh warga sekitar disebut Reco Gajah. Ia menambahkan, peletakan arca Ganesha di gapura perbatasan Kota Batu terinspirasi dari arca Ganesha yang ada di tengah persawahan tersebut.
Juga, arca Ganesha Torongrejo ini satu-satunya arca yang masih utuh dan layak menjadi ikon selain apel.
“Ganesha Torongrejo ini fungsinya sebagai vignya vignecvara atau Dewa penolak mara bahaya karena letaknya menghadap tempuran, dua pertemuan sungai (Kali Brantas dan Kali Lanang),” imbuh Fathur.
Menurutnya, pertemuan dua aliran sungai besar merupakan tempat yang sangat berbahaya, sehingga dalam konsep masyarakat Jawa Kuna untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan diletakkan arca Dewa Ganesha dan diharapkan mampu meredam berbagai energi negatif dan bencana yang muncul.
“Mungkin, berangkat dari konsep inilah Arca Ganesha juga diletakkan di gapura perbatasan wilayah Batu dengan dihadapkan ke segala penjuru arah mata angin,” tambahnya.
Dari bentuk ornamen dan penggambarannya, kemungkinan besar Arca Ganesha Torongrejo ini berasal dari masa Majapahit. Hal itu terlihat dari penggambaran arca yang terlihat kaku, gagah, dan identik dengan arca-arca dari masa Majapahit.
Dengan banyaknya situs-situs sejarah yang ada di Kota Batu, diharapkan pemerintah kota perlu mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata yang unik.
Berbagai situs sejarah yang ada di Batu selayaknya turut dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal di sekolah, sehingga pelajar di Batu akan semakin bangga dengan sejarah kotanya sendiri.
“Sayang, Pemkot agaknya hanya mementingkan destinasi wisata buatan yang mampu mendatangkan income lebih daripada mengelola tinggalan sejarah yang ada di Kota Batu yang notabene merupakan saksi sejarah perkembangan wilayah Batu dari masa ke masa” ungkap Somastha.
Menurutnya, apabila sejarah mampu diolah sebagai destinasi wisata, maka masyarakat dan pemerintah akan sama-sama mendapatkan keuntungan. Di antaranya ialah semakin meningkatnya rasa bangga dan percaya diri akan khasanah budaya bangsa ditengah lunturnya jati diri ketimuran bangsa kita akhir-akhir ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ganesha-torongrejo-batu_20170112_185127.jpg)