Senin, 13 April 2026

Berita Tuban

Urea dan Phonska Bersubsidi Langka di Tuban, Pasar Gelap Makin Subur

LANGKA PUPUK SUBSIDI. kuota pupuk subsidi yang diberikan pemerintah pusat kepada petani di Tuban hanya separuh.

Penulis: Iksan Fauzi | Editor: Musahadah
surya/iksan fauzi
Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein 

SURYA.co.id|TUBAN - Pada musim tanam padi dan jagung bulan ini, para petani kesulitan mendapatkan pupuk subsidi jenis urea dan phonska.

Untuk menanggulangi kelangkaan pupuk subsidi, Pemerintah Kabupaten Tuban mengajukan usulan ke pemerintah provinsi Jawa Timur.

Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein mengatakan, kuota pupuk subsidi yang diberikan pemerintah pusat kepada petani di Tuban hanya separuh.

Kondisi itu menyebabkan kebutuhan pupuk untuk petani makin berkurang.

“Dari kebutuhan aslinya sudah kurang, kami hanya dapat separuh. Ini pas musim tanam, bersamaan tanam padi dan jagung pupuk sangat kurang, memang kami dapat tambahan kuota 2.000 ton pupuk, itu pun tidak semua jenis pupuk,” papar Noor Nahar di Gedung DPRD, Jumat (16/12/2016).

Noor Nahar mengaku sudah mengajukan tambahan kuota sesuai permintaan para petani. Namun, pihak pemerintah hanya memberikan sedikit.

“Permintaan itu sudah berkali-kali dan bertahun tahun. Ini tidak hanya dialami Tuban, tapi nasional. Memang kuota pupuk bersubsidi kurang dari kebutuhan yang sebenarnya,” katanya.

Agar harga pupuk subsidi tidak melambung tinggi saat pupuk langka, Noor Nahar menginstruksikan kepada pihak Dinas Pertanian meningkatkan pengawasan distribusi pupuk subsidi.

Noor Nahar juga minta permintaan pengawasan juga dilakukan pihak TNI yang dilibatkan dalam pengawasan peredaran pupuk agar sesuai harga.

“Tapi sekarang pupuk tidak ada, langka, pasar gelap jadi subur dan naik. Saya minta kepada pihak yang diberi wewenang untuk segera melakukan tindakan secara cepat,” ungkapnya.

Berita surya.co.id sebelumnya, sekitar sembilan bulan ini, sebagian besar petani di wilayah Kabupaten Tuban kesulitan mendapatkan pupuk subsidi jenis urea dan phonska.

Kalaupun ada, harga pupuk itu mahalnya bukan main, selisihnya sekitar Rp 60.000 dibanding kondisi normal.

“Kelangkaan pupuk selalu terjadi di setiap tahun, saat mau menanam dan masa memupuk. Itu hal biasa, tapi kelangkaan sekarang luar biasa, saya cari di tempat lain tidak ada,” keluh Rustamuri, seorang petani jagung asal Kecamatan Merakurak kepada surya.co.id, Sabtu (10/12/2016) siang.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved