Berita Ekonomi Bisnis
Dari sekitar 60.000, Nasabah Danareksa Surabaya Masih Sekitar 5 Persen
"TAPI kami melihat peluangnya masih besar di Surabaya, sehingga kami maksimalkan pelayanan dengan membuka kantor baru di Tunjungan Center."
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Pasar danareksa di wilayah Surabaya masih sangat besar. Dari sekitar 60.000 nasabah retail PT Danareksa Sekuritas, yang berasal dari Surabaya masih sekitar 3.000 nasabah.
"Masih sekitar 5 persen. Tapi kami melihat peluangnya masih besar di Surabaya, sehingga kami maksimalkan pelayanan dengan membuka kantor baru di Tunjungan Center lantai 22 ini," jelas Jenpino Ngabdi, Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas, saat launching kantor baru, Rabu (7/12/2016).
Jenpiro menambahkan, selain layanan PT Danareksa Sekuritas, di kantor baru itu juga melayani konsultasi keuangan dan berbagai produk terkait dari PT Danareksa Investment Management (DIM).
Selain launching kantor baru, keduanya juga menggelar seminar economic outlook 2017 di Hotel JW Marriot Surabaya.
Jenpino, didampingi Direktur Utama PT DIM, Prihatmo Hari Mulyanto, menambahkan, potensi ekonomi di tahun 2017 dipredeksi akan tumbuh positif.
"Termasuk di Jatim. Potensi ekonomi dengan tingkat pertumbuhan hingga akhir tahun ini yang diprediksi 5 persen, di tahun 2017 akan naik hingga 5,2 persen," jelas Prihatmo.
Karena itu, pasar di Jatim masih tinggi untuk dibidik menjadi nasabah retail maupun nasabah instusi. Mereka mentargetkan bisa menambah sebanyak-banyaknya. Apalagi tingkat inflasinya stabil di tingkat 3 persen.
Saat ini, dana reksadana yang dikelola PT Danareksa Sekuritas mencapai Rp 15 triliun.
Dengan berbagai produk pengelolaan keuangan yang sesuai dengan pilihan dan kebutuhan nasabah.
Sementara itu, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dalam acara Market Outlook 2017: Embracing Changes yang digelar di Jakarta, Katarina Setiawan, Chief Economist and Investment Strategist MAMI mengatakan, setelah volatilitas jangka pendek mereda, Asia terutama Indonesia, akan tetap menjadi tujuan investasi global karena fundamental yang kuat dan potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
"Walau tidak kebal terhadap goncangan eksternal, namun saat ini Indonesia berada dalam kondisi yang lebih siap dibandingkan saat tahun 2013 dan 2015 lalu. Cadangan devisa telah meningkat, sementara defisit transaksi berjalan telah jauh menurun," jelas Katarina.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif telah memicu penguatan mata uang dolar AS dan meningkatkan arus dana asing keluar dari Indonesia, yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Akan tetapi, dengan semakin membaiknya defisit neraca berjalan disertai dengan kecukupan cadangan devisa di atas rata-rata 8 bulan impor, membuat ekonomi Indonesia diyakini tetap kokoh. Selain itu, dari sisi perdagangan dan investasi, ekonomi Indonesia relatif terisolasi karena lebih berorientasi pada konsumsi domestik.
Eksposur Indonesia terhadap perdagangan dengan Amerika Serikat dan perdagangan global secara keseluruhan termasuk yang terendah di antara negara-negara Asia lainnya.
Beragam kondisi tersebut membuat Indonesia relatif terlindungi dari dampak negatif ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/reksadana-buka-kantor-baru_20161207_224739.jpg)