Senin, 13 April 2026

Napak Tilas Keemasan Sriwijaya Itu Bernama Tol Laut

Untuk mendukung suksesnya program tol laut, hingga 2016, Pelindo III telah mengucurkan anggaran sebesar Rp 16,9 triliun.

Penulis: Mujib Anwar | Editor: Yuli
foto: istimewa
Kapal Tommi Ritscher sandar dan bongkar di Terminal Teluk Lamong Pelabuhan Tanjung Perak, yang dikelola PT Pelindo III. 

SURYA.co.id | SURABAYA – "Kalau tol laut ini kita bangun deep sea port, kita bangun di Sumatera, Jawa, kita bangun di Kalimantan Sulawesi, Papua. Ini akan memberikan rasa keadilan, karena nantinya harga semen di Sumatera, Jawa dan Kalimantan itu akan sama karena kita negara maritim dan laut tidak diberikan perhatian".

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Joko Widodo (Jokowi) saat debat calon presiden, 15 Juni 2014. Setelah dilantik sebagai Presiden RI ke-7, 20 Oktober 2014, Jokowi menjadikan tol laut sebagai salah satu program prioritas yang harus diwujudkan selama lima tahun memimpin negeri ini.

Dua tahun setelah masa pemerintahannya, buah tol laut mulai terlihat serta dapat dirasakan manfaatnya.

Untuk menunjukkan komitmen itu, dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019, pemerintah menetapkan membuat konektivitas 24 pelabuhan di Indonesia. Dengan saling terhubungnya antar pelabuhan tersebut, arus lalu lintas barang yang diangkut kapal makin lancar dan cepat. Perbaikan infrastruktur dan fasilitas juga terus dilakukan, dengan dukungan semua stakeholders terkait.

Dari 24 pelabuhan, lima diantaranya berada di wilayah PT Pelindo III. Yakni, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Banjarmasin, Pelabuhan Sampit, dan Pelabuhan Tenau Kupang.

Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, sebagai operator terminal pelabuhan, Pelindo telah menyediakan berbagai fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk mempercepat terwujudnya konektivitas antar pelabuhan, dengan standar minimal yang sama. Sehingga pelabuhan dapat disandari oleh berbagai jenis kapal, termasuk kargo. Bongkar muat khusus juga didukung oleh container crane. 

“Dengan begitu, saat kapal datang, bongkar muat barang bisa cepat dilakukan. Sehingga lebih efisien. Datang, bongkar muat, dan pergi,” ujarnya, kepada Surya, Kamis (10/11/2016).

Selain itu, waktu sandar kapal juga mulai terjadwal. Baik jadwal di pelabuhan Surabaya, Banjarmasin, Jakarta maupun lainnya. Ini berkat window system connectivity yang diterapkan.

Lewat penataan tersebut, jika sebelumnya dalam waktu dua minggu kapal hanya sekali bisa sandar di pelabuhan. Saat ini, dua minggu dapat sandar tiga kali. Bahkan, beberapa jenis kapal tertentu dalam seminggu ada yang bisa sandar hingga tiga kali.

Menurut Edi, dampak lancarnya konektivitas tersebut, saat ini mulai bisa dirasakan. Jika tahun 2005, harga air mineral galon di Kalimantan bisa sampai tiga kali lipatnya dibandingkan di Surabaya. Sekarang harganya hampir sama.

“Ini menunjukkan, ekonomi biaya tinggi mulai bisa direduksi. Ini penting untuk mengurangi disparitas dan meningkatkan daya saing kita dalam perekonomian global,” terangnya.

Tak hanya menjadikan harga barang lebih murah. Volume perdagangan domestik juga meningkat. Data di Pelindo III menyebutkan, hingga triwulan III 2016, 57 persen dari barang yang diangkut oleh kapal adalah untuk perdagangan domestik atau antar pulau di Indonesia. 

Hal ini mendongkrak jumlah petikemas tumbuh 6 persen dibanding tahun lalu.

Dari kapal yang sandar, jumlahnya juga dipastikan meningkat tajam. Jika tahun 2015, kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Perak hanya 9.000. Hingga semester III tahun ini, jumlahnya sudah mencapai 10.000 kapal.

“Sampai akhir tahun nanti, kita optimis target 14.000 kapal  sandar akan terwujud,” sebutnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved