Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Menyimak Pasuruan Tempo Dulu dalam De Stille Kracht

dulu, Pasuruan pernah berjaya... bahkan diangkat menjadi latar novel roman sejarah oleh penulis Belanda dan menjadi miniseri televisi.. tapi kini...

Editor: Tri Hatma Ningsih
dariuszsankowski/px
ilustrasi 

Reportase : Eki Robbi Kusuma
Guru Sejarah SMAN 3 Pasuruan

NAMA Louis Couperus, memang terasa asing bagi telinga Indonesia. Namun tidak demikian di negeri asalnya, Belanda. Kendati, Couperus yang kondang lewat novelnya De Stille Kracht ini pernah tinggal di Pasuruan, Jawa Timur. 

“Sumber sejarah saat ini sudah cukup banyak, tidak hanya lewat buku tetapi juga bisa lewat novel,“ terang FX Domini BB Hera, peneliti sejarah dari LPPM Universitas Brawijaya, Sabtu (5/11/2016).

Dalam sarasehan dan jelajah situs sejarah Pasuruan era kolonial bersama PKGMP Sejarah SMA Kabupaten Pasuruan di Gedong Wolu, Kota Pasuruan, Sisco sapaan akrabnya, mengajak peserta menikmati pasuruan dari novel De Stille Kracht yang bisa diartikan Kekuatan terselubung.

Novel terbitan tahun 1900 yang mendapat apreasi cukup besar di Belanda itu menceritakan tentang ramalan kekalahan Belanda akibat perlawanan penduduk pribumi dan munculnya kekuatan Islam di Indonesia kurun itu.

Dalam novel tersebut digambarkan tentang pertentangan dingin antara Residen dan keluarga Bupati.  Keluarga Residen kemudian diganggu oleh kekuatan gaib yang misterius, ditambah dengan bayangan haji berjubah dan bersurban putih yang melintasi kediaman mereka.

“Bagi mereka yang ingin belajar tentang Indonesia perlu membaca novel ini, yang tidak lain menceritakan Pasuruan,” terang Sisco. Bahkan karena pengaruhnya yang besar bagi sastra Belanda, tahun 1977 novel tersebut diangkat menjadi serial TV di Belanda.

Sisco juga menjabarkan nama-nama Pasuruan semasa VOC hingga dikenal dengan nama Pasuruan saat ini. Beberapa data yang dihimpun didapati nomenklatur Passourawang (1706), Passaroewan (1725-1727), Pasoeroeang, Pasoeroean (1849).

Nama-nama tersebut terdengar seperti 'pasar uang' yang menggambarkan mudahnya mencari uang di Pasuruan saat itu. Kemudahan tersebut jika ditelusuri tidak menutup kemungkinan karena denyut nadi perekonomian Pasuruan yang besar dengan ditopang pelabuhan yang ramai.

Sampai pada akhirnya Malang tumbuh menjadi kota kolonial yang ramai tahun 1900-an. Ditambah pasca kemerdekaan, pelabuhan Pasuruan sebagai penopang ekonomi terbesarnya tidak berfungsi seperti masa kejayaannya. Lambat laun kota yang dulunya pernah gemilang mulai menurun roda ekonominya dan menyisakan bangunan era kolonial berserakan di sana sini.

Tidak hanya ekonomi, tercatat juga tokoh-tokoh besar yang lahir di Pasuruan. Salah satunya EFE Douwes Dekker, pejuang kemerdekaan. Walaupun dia indo tetapi perannya dalam melahirkan republik tidak diragukan lagi.

Ada juga RM Sunito Djojowirono, tokoh Perhimpunan Indonesia. Sewaktu di Belanda ia menjadi aktivis bawah tanah anti-Nazi ketika Perang Dunia II berkecamuk di Eropa, khususnya Belanda. Hal tersebut membuatnya cukup dikenal di Belanda tetapi tidak di Indonesia.

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved