Senin, 13 April 2026

Berita Bangkalan Madura

Guru Asal California Terkesan dengan Keramahan Warga Bangkalan

"Saya kerasan di sini (Bangkalan). Orang-orangnya ramah dan budayanya bagus. Teman-teman selalu ajak saya nonton karapan sapi. Bahkan saya ikut bakar

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Yoni
surya/Ahmad Faisol
Rombongan Wakil Duta Besar AS Brian Mc Feeters, Konsulat Jenderal AS di Surabaya Heather Variava, Direktur Peace Corps Indonesia Nina Favor, dan Eddy Vien (kanan) saat berada di MAN Bangkalan, Senin (3/10/2016) 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Native speaker di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bangkalan, Eddy Vien (26), asal California, Amerika Serikat (AS) merasa betah tinggal di Kota Bangkalan.

Alumnus University of California, Santa Cruz itu hanya membutuhkan waktu tiga bulan mempelajari dan menguasai Bahasa Indonesia dengan baik.

Sepintas, wajah Eddy Vien tidak nampak sebagai orang-orang bule pada umumnya.

Apalagi postur, rambut hitam, dan bola mata hitam seolah menegaskan bahwa ia adalah warga Indonesia atau bahkan warga Bangkalan, Madura.

Karena itulah, Mr Eddy, begitulah ia akrab disapa, mudah bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat di mana ia tinggal, Jalan KH Moh Cholili, Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota.

"Enggi (iya)," begitulah jawaban Eddy dalam Bahasa Madura halus ketika mengawali percakapan dengan SURYA.co.id usai menerima kedatangan Wakil Duta Besar AS Brian Mc Feeters, Konsulat Jenderal AS di Surabaya Heather Variava, serta Direktur Peace Corps Indonesia Nina Favor di MAN Bangkalan, Senin (3/10/2016).

Sejak ditugaskan sebagai pengajar Bahasa Inggris pada Juli 2015, Eddy selalu meluangkan waktu belajar bahasa Indonesia bahkan Bahasa Madura kepada rekan sesama guru ataupun para tetangga di mana ia tinggal.

"Saya kerasan di sini (Bangkalan). Orang-orangnya ramah dan budayanya bagus. Teman-teman selalu ajak saya nonton karapan sapi. Bahkan saya ikut bakar dan makan sate bersama siswa saat Idul Adha," jelas Eddy kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Selain itu, kesan mendalam dirasakan Eddy adalah kuliner khas Madura seperti masakan bebek, sate, hingga nasi goreng. Ragam olahan makanan yang belum pernah ia jumpai di negara asalnya.

"Para siswa juga baik. Nakalnya hanya terlalu banyak bicara di dalam kelas. Tapi secara umum bagus, sama saja" ujarnya.

Ia menambahkan, hal yang membedakan dengan SMA di negeranya hanyalah terletak pada jumlah mata pelajaran. Dalam satu minggu, terhitung hanya enam mata pelajaran. Di mana setiap tiga bulan akan berubah.

"Siswa di sana (California) menjadi tidak stres. Di sini dalam satu minggu ada 18 mata pelajaran. Saya pikir terlalu banyak," pungkas Eddy yang mengajar kelas X, XII, dan XIII.

Kedatangan Wakil Duta Besar AS Brian Mc Feeters, Konsulat Jenderal AS di Surabaya Heather Variava, serta Direktur Peace Corps Indonesia Nina Favor di MAN Bangkalan tak lain untuk melihat secara langsung cara Eddy Vien memberikan materi Bahasa Inggris kepada siswa.

"Ternyata Eddy bisa mengajar dan diterima dengan baik. Begitu juga komunikasi dengan siswa dan rekan kerja sangat bagus," Wakil Duta Besar AS, Brian Mc Feeters kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Program Peace Corps merupakan gagasan Presiden John F Kennedy pada tahun 1961. Melalui para relawan seperti Eddy Vien, diharapkan mampu mendorong dan membangun persahabatan dan perdamaian dunia, serta membangun hubungan yang lebih erat antara Indonesia dan AS.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved