Selasa, 14 April 2026

Berita Kampus Surabaya

Mahasiswa FISIP Unair Demo soal Kekerasan Akademik

Mereka mengeluhkan beberapa permasalahan akademik,organisasi hingga sarana prasarana.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Yuli
sulvi sofiana
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) Surabaya yang menamakan diri FISIP GUYUB unjuk rasa di gedung perkuliahan FISIP, Senin (2&/9/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) Surabaya yang menamakan diri FISIP GUYUB unjuk rasa di gedung perkuliahan FISIP, Senin (2&/9/2016).

Mereka mengeluhkan beberapa permasalahan akademik,organisasi hingga sarana prasarana.

Salah satu sorotan mereka yaitu terkait kekerasan akademik. Hal ini disampaikan Rico Pahlawan, mahasiswa FISIP sekaligus ketua Badan Legislatif Mahasiswa FISIP.

Ia menjelaskan kekerasan akademik ini tercermin dari banyaknya mahasiswa yang diterima di FISIP. Sehingga proses transfer ilmu menjadi tidak maksimal.

“Dapat dikatakan ini menjadi masalah yang klasik tiap tahunnya, di FISIP sendiri rata-rata penerimaan Mahasiswa Baru tiap tahunnya berkisar kurang lebihnya 100 mahasiswa per program studi sedangkan outputnya hanya 40 sampai 60 persennya,” jelasnya pada SURYA.co.id, Senin (26/9/2016).

Padahal, dikatakannya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 73, disebutkan bahwa Perguruan Tinggi menjaga keseimbangan antara jumlah maksimum mahasiswa dalam setiap Program Studi dan kapasitas sarana dan prasarana, Dosen dan tenaga kependidikan, serta layanan dan sumber daya pendidikan lainnya.

“Disparitas antara jumlah pengajar seorang dan satu kelas seisi 100 bahkan hingga 200 orang pun akhirnya menyulitkan banyak mahasiswa dalam menyerap ilmu yang disampaikan oleh dosennya,” tegasnya.

LIHAT JUGA: VIDEO - Tolak Praktik Kekerasan Mahasiswa, Dosen Fisip Unair Gelar Forum Terbuka Lawan Mahasiswa

Belum lagi adanya kesulitan peminjaman sarana prasatana kampus yang dialami mahasiswa, belum aktifnya student centre yang sudah didirikan selama 7 bulan. Mereka juga menyoroti dibekukannya satu organisasi jurusan.

“Kalau dibekukan begitu kan mematikan kreativitas mahasiswa. Kami juga meminta keterlibatan mahasiswa dalam perencanaan pembangunna infrastruktur dan supratruktur,”lanjutnya.

Demo ini dilakukan dengan membawa massa mahasiswa berkeliling fakultas yang berada di kampus B Unair ini. Kemudian mereka berorasi dan bertukar pendapat tentang keluhan selama perkuliahan.

Menanggapi hal ini, Wakil Dekan II FISIP, Tuti Budirahayu menjelaskan terkait pembekuan organisasi mahasiswa memang telah ada pelanggaran kesepakatan antara Fakuktas dengan organisasi. Namun hal ini bisa didiskusikan kembali antara organisasi dengan dekanat.

“Kalau prasarana, memang keterbatasan kami. Makanya bisa sampai ada banyak mahasiswa dalam satu ruangan. Memang ada neberapa prodi yabg rasionya belum memenuhi, tapi tidak semua,”tuturnya.

Ia pun menyayangkan mahasiswa yang menggalang aksi massa. Karena menurutnya tidak akan ada jalan keluar dengan menggelar aksi demo, karena lebih efektif dialog terbuka bersama.

Ia pun berusaha tetap menampung dan mempertimbangkan solusi dari beragam tuntutan mahasiswa dari aksi massa ini

“Akan kami adakan dialog lanjutan untuk menjelaskan dan memenuhi tuntutan mahasiswa,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved