Reportase dari Mesir
Azhar Park, Oase di Padang Gersang Kairo
awalnya ide gila ini terasa muskil diwujudkan.. akhir bukit sampah seluas 30 hektar ini sukses disulap menjadi taman bak oase bagi gersangnya Kairo
Reportase : Nanang Syaiful Rohman
Sedang bertugas di Pusat Kebudayaan Informasi Indonesia di Kairo dan Pusat Studi Indonesia Ismailia Mesir
AKHIR pekan menjelang, hal pertama yang saya pikirkan adalah pergi ke mana dan di sana melakukan apa. Taman menjadi pilihan terbaik untuk menyegarkan pikiran di tengah cuaca di Mesir yang sedang teriknya. Bau rumput hijau segar dapat membantu merilekskan pikiran dan membuat hati gembira. Akhirnya keputusannya adalah pergi ke Azhar Park.
Azhar Park berada di kawasan Darrasah. Di sini berdiri masjid Al Azhar, cikal bakal dari Universitas Al Azhar dan kompleks masjid Hussein. Taman indah ini terletak di atas bukit dekat kawasan kampus Al- Azhar di pinggir Salah Saleem road.
Meski memakai nama Azhar, Azhar Park bukan milik Al-Azhar. Sejarahnya, bukit yang sekarang dijadikan taman ini dulunya merupakan tempat pembuangan akhir yang berisikan tumpukan sampah berumur 500 tahun.
Pada tahun 1992, bukit sampah ini disulap menjadi taman yang luasnya mencapai 30 hektar atas bantuan Agha Khan IV, keturunan Dinasti Fatimiyah. Pebisnis dan pemilik pacuan kuda ini kini berkebangsaan Swiss.
Taman ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 2005. Tiket masuk taman ini ini hanya sekitar 10 EGP (weekdays) dan 15 EGP (weekend) atau sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000.
Dari spot tertinggi di Azhar Park, bisa dilihat pemandangan indah dari sekeliling taman. Di bagian barat, bisa disimak Kota Kairo yang bangunannya berwarna cokelat semua. Bisa juga dilihat menara Kairo dari sisi ini.
Di sisi selatan, bisa dilihat masjid Muhammad Ali Pasha yang berada di dalam benteng Salahuddin Al Ayyubi. Masjid ini dari kejauhan terlihat seperti Hagia Sofia di Turki.
Di bagian timur taman, bisa dillihat benteng peninggalan Dinasti Fatimiyah yang saat ini sedang direnovasi dan akan dibangun museum Historic of Cairo yang nantinya akan menyimpan karya seni dan peninggalan Islam.
Dari sisi ini pengunjung bisa melihat City of Dead yang biasanya dikenal sebagai pemakaman tua bagi para sultan dan amir dari Dinasti Mamalik.
Di tengah taman ini juga terdapat restoran dengan arsitektur menarik yang menyerupai masjid. Pemandangan keseluruhan taman tampak jelas dari restoran ini.
Taman hijau ini sangat bermanfaat di tengah padatnya permukiman dan minimnya pepohonan di Mesir sekaligus menjadi paru-paru kota yang padat dengan kendaraan bermotor.
Tak pelak tman ini mampu menjadi oase bagi warga Mesir yang tinggal di padang gersang dan tak memiliki taman atau halaman di depan rumahnya. Taman ini sangat cocok untuk rujakan apalagi pacaran. Aha!
