Berita Kampus Surabaya
Mantan Warga Indonesia Ini Temukan Teknologi Aspal Terbaru di Belanda
Prof Dr Ir Hendro Subroto MSc PhD dan keluarga pindah ke Belanda beberapa tahun silam, saat Hendro masih berumur 15 tahun.
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Seorang peneliti asal Belanda hadir di tengah-tengah mahasiswa Universitas Narotama, Surabaya, Rabu (31/8/2016).
Dari bentuk wajahnya tampak jelas dia bukanlah keturunan dari negeri Kincir Angin asli tapi lebih mirip wajah lazimnya orang Indonesia.
Namanya Hendro Subroto. Lengkapnya: Prof Dr Ir Hendro Subroto MSc PhD.
Pria pemilik rambut dan jenggot yang mulai memutih ini memang kelahiran Indonesia. Ia dan keluarga pindah ke Belanda beberapa tahun silam, saat Hendro masih berumur 15 tahun.
Puluhan tahun lamanya tinggal dan berganti kewarganegaaraan di Belanda, tak lantas membuat Hendro lupa dengan tanah kelahirannya. Dengan membawa sebuah inovasi terbaru, Hendro berharap Indonesia bisa lebih maju.
"Saya pernah bekerja sebagai PU (seperti pemerintahan) di Utrecht, Belanda spesialis konstruksi jalan. Beberapa tahun lalu kami melakukan penelitian terkait material aspal yang digunakan di jalan-jalan kota. Semua berawal dari ketidakpuasan saya dengan produk aspal yang ditawarkan para kontraktor," kisahnya, usai mengisi acara Workshop on The Field of Asphalt Technology.
Ketidakpuasan itu membawa Hendro meneliti aspal SMA (sebuah aspal produk Brazil yang belum ada standar regulasinya). Dari penelitian itu Hendro menghasilkan dua produk aspal yang jauh lebih kuat.
"Saya pakai dua nama yaitu MODUS (geModificeert Utrecht SMA) dan DESA (Double Enforcements in Stonemastic Asphalt). Nama desa sengaja saya pakai supaya terlihat Indonesianya," katanya lalu tertawa kecil.
Dua temuan ini sengaja diperkenalkan Hendro ke Indonesia karena memiliki tekstur yang kuat, dan cocok dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis.
"Kami sudah pakai aspal ini di Belanda, di Brazil, Jerman, dan Israel. Kami sudah uji coba kami bisa menjamin ketahanannya hingga 20 tahun, bahkan sampai 25 tahun," terangnya.
Hendro menilai penggunaan aspal di Indonesia tidak tepat karena memakai aspal material pasir. Bahkan di beberapa tempat menggunakan bahan beton yang mahal tapi merusak lingkungan.
"Sementara teknologi yang saya usung ini adalah aspal dengan material dari batu sehingga lebih keras. Jadi, kalau iklim tropis panas saat mendapat tumbukan berat kendaraan, aspal akan tahan. Tidak seperti kebanyakan aspal material pasir di Indonesia, lihat saja jalan tepat di lampu merah banyak yang bergelombang, itu karena teksturnya tidak bisa menahan berat sehingga bergelombang," jelasnya.
Kelebihan teknologi aspal milik Hendro diakuinya memiliki tekstur kasar pada bagian permukaan sehingga tidak licin saat hujan.
Ingin merangkul Indonesia, Hendro bekerjasama dengan Universitas Narotama untuk mengembangkan teknologi aspal miliknya.
"Waktu dipakai di Brazil saya lakukan penelitian ulang karena kami memakai material lokal. Rencananya jika pemerintah Indonesia bersedia mengembangkan teknologi ini, kami juga siap melakukan research dengan material yang ada di Indonesia. Di sini banyak gunung, kerikil dan bebatuan, jadi saya rasa akan jauh lebih mudah diterapkan di Indonesia," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/beritajatim-ahli-aspal-prof-dr-ir-hendro-subroto-belanda-surabaya_20160831_213627.jpg)