Kamis, 7 Mei 2026

Berita Surabaya

Gus Nizam Masuk Gereja: Kita Diperintah Mempergauli Siapa Saja dengan Pergaulan yang Baik

"Saya senang ada ramai-ramai begini. Apalagi panitia mengundang para pemuka agama, kami jadi merasa dapat berkah atas doa-doa mereka, " tambahnya.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Parmin
surya/pipit maulidiya
Dari kanan; para pemuka agama Katolik, RD (Romo) Fanny S Hure, pemuka agama Islam, K.H.Mohammad Nizam As-Shofa, pemuka agama Hindu Pinandito I Wayan Suraba MpDh (Ketua Umum Majelis Tertinggi Agama Hindu Kota Surabaya), pemuka agama Kong Hu Cu Js.Anuraga, dan Penghayat, Ny.Mamik Djaka Wahyudi berdoa bersama sebelum acara. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Duduk sendiri di baris kursi belakang acara pagelaran wayang kulit bertema Dalam Kasih Membangun Persaudaraan, Sumini seorang yang lanjut usia tampak tak sabar menyaksikan acara peringatan 17 Agustus itu.

Pandangannya mengarah ke panggung megah di lapangan parkir Gereja Katolik Redemptor, Jalan Dukuh Kupang Barat I no 7 Surabaya, Sabtu  (27/8/2016) malam. Perempuan 62 tahun ini menunggu sang dalang, beserta penabuh memainkan alunan musik tradisional.
 

Selain Sumini masih ada ratusan orang lainnya yang terdiri dari warga RW 3 Dukuh Kupang, RW 8 Dukuh Kupang, dan RW 3 Dukuh Pakis Surabaya, tak sabar menyaksikan pertunjukan wayangan.

"Keburu ngantuk," celetuk Sumini lalu tertawa kecil.
 

Sumini tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang terpancar di wajahnya. Ia terus menebar senyum sapa kepada warga yang baru datang, dan menempati kursi. Meski harus menonton wayang sendiri karena suaminya masih bertugas di Gereja, ia tak merasa sedih. Banyak tetangga di kanan dan kirinya yang berbaur jadi satu di baris kursi penonton.
 

"Saya senang ada ramai-ramai begini. Apalagi panitia mengundang para pemuka agama, kami jadi merasa dapat berkah atas doa-doa mereka," tambahnya tersenyum sambil menoleh ke arah tetangganya yang berkerudung, meminta persetujuan.
 

Sesaat kemudian nama pemuka agama dipanggil untuk memberikan doa, sebelum acara wayangan dimulai. Satu per satu, pemuka agama Islam KH Mohammad Nizam As-Shofa, pemuka agama Kristen Pendeta Simon Filantrofa, pemuka agama Katolik RD Fanny S Hure, pemuka agama Hindu Pinandito I Wayan Suraba MpDh (Ketua Umum Majelis Tertinggi Agama Hindu Kota Surabaya), pemuka agama Kong Hu Cu Js Anuraga, pemuka agama Budha Romo Abaya dan penghayat kepercayaan kepada Tuhan, Ny Mamik Djaka Wahyudi.
 

Mereka membacakan doa sesuai keyakinan. Hadirin dari Muslim, Nasrani, Kong Hu Cu, dan Hindu berdiri ikut mengangkat tangan mengamini doa para pemuka agama.
 

Kekompakan warga sekitar Gereja Katolik Redemptor juga patut diacungi jempol. Ini lantaran mereka yang beragam kepercayaan, namun tetap guyup dalam meramaikan acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia.
 

"Kami memperingati 17 Agustus dengan cara seperti ini. Membangun kekeluargaan dan persaudaraan. Artinya kita tidak mampu berdiri sendiri. Terlebih saat ini gencar pemberitaan teroris, mereka musuh kita bersama karena berusaha memecahkan kesatuan kita," kata Ketua panitia acara, Kol (Purn) Theodorus Warman saat ditemui SURYA.co.id.
 

KH M Nizam As Shofa (Gus Nizam) atau yang sering dikenal sebagai pencipta Syi'ir Tanpo Waton, ikut membenarkan hal itu. Bersama 23 anggota Walima (Waktunya Peduli Sesama) bentukannya, Gus Nizam hadir hingga rangkaian acara selesai. Bahkan Gus Nizam sempat mengikuti acara Misa di gereja dan memberikan sedikit wejangan kepada para jamaah.
 

Ia sempat menceritakan perihal pelantun Syiir Tanpa Waton karyanya, yang dikira suara almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), oleh kebanyakan orang.
 

"Banyak orang masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya menganggap bahwa itu suara Gus Dur. Mudah-mudahan anggapan banyak orang itu menjadi doa bagi saya, bisa melanjutkan harapan, cita-cita, dan perjuangan guru kita Gus Dur tercinta," katanya di hadapan para jamaah, istri dan anggota Walima (Waktunya Peduli Sesama) yang juga duduk tertib di dalam gereja.
 

Nizam menuturkan saat dipersilakan memberikan wejangan di gereja, dirinya menyampaikan ajakan menjaga perdamaian. Sesuai perintah Allah pada surat Al Baqarah.
 

"Telah disebutkan, sesungguhnya orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang Tabi'in (dari Bahasa Arab yang berarti pengikut, orang-orang yang hidup setelah zaman Nabi Muhammad). Mereka itu adalah orang yang beriman di hari akhir. Dari ayat ini kita diperintah menjalin ukhwah persaudaraan seiman antar agama Samawi," terangnya usai acara.
 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved