Minggu, 10 Mei 2026

Berita Surabaya

Bayi Prematur Tewas di RS dr Soetomo, Keluarga Anggap Gara-gara Ditelantarkan

"Setor nyawa ke sini. Cucuku meninggal karena kami menggunakan SKTM. Semua orang di sini tidak berkemanusiaan," kata si nenek. Ia menangis.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Yuli
pipit maulidiya
PASIEN TIDAK MAMPU - Azizatul Khoiroh (21) dan Muhammad Royhan (24) saat di depan ruang IRNA Anak RS dr Soetomo. Mereka protes pada pihak rumah sakit atas kelalaian dalam merawat anak pertamanya, Muhammad Zafran, yang berujung meninggal dunia. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Suara isak tangis perempuan terdengar lantang di depan IRNA Anak Rumah Sakit dr Soetomo, Surabaya, Rabu (17/8/2016) siang.

Seorang perempuan paruh baya selonjor di lantai bersama sejumlah berkas yang berserakan di samping kanannya. Sambil memukul kepala dan dadanya, ia berteriak meratapi cucunya yang meningga dunia.

"Setor nyawa ke sini. Cucuku meninggal karena kami menggunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Semua orang di sini tidak berkemanusiaan. Dia ke sini hidup sehat, sekarang tanpa nyawa," ucapnya lantang dan terisak.

Beberapa keluarganya mendekapnya erat takut terjadi apa-apa. Azizatun Khoiroh (21), ibu si bayi bernama Muhammad Zafran yang telah meinggal dunia itu hanya menangis di depan pintu IRNA Anak, melihat mertuanya tak berdaya.

Sedangkan Muhammad Royhan (24), suami Azizatun, segera menjelaskan kepada awak media yang datang agar kejadian ini tak terulang.

"Anak saya lahir prematur pada Senin (15/8/2016) di Rumah Sakit Ibu dan Anak (IBI) Jalan Raya Dupak. Karena kondisinya prematur dan alat di sana tidak lengkap, pihak rumah sakit IBI merujuk kami ke RS dr Soetomo. Faktor biaya juga, kami di IBI baru 2 hari sudah kena Rp 3,5 juta. Atas rujukan IBI ke sini supaya lebih murah. Kok malah seperti ini," terangnya.

Royhan melanjutkan, usai medapatkan surat rujukan dirinya mendaftar sebagai pasien dengan SKTM. Menunggu lama di IRD mulai pukul 16.00 WIB, anaknya baru dilayani dan dimasukkan ruang IRNA Anak pukul 21.00 WIB.

"Karena kondisi anak saya sehat waktu itu berat badannya 1.760 gram dan panjangnya 46 cm, dia juga bisa menangis. Makanya pihak rumah sakit RS DR Soetomo beralasan anak-anak yang kondisinya gawat didahulukan," ujarnya.

Saat di ruang IRNA, Royhan mengantakan, bayinya masih sehat dan bergerak. Ia melihat anaknya diletakkan dalam boks bayi dilengkapi kontrol temperatur.

Usai anaknya diletakkan di tempat itu, Royhan mendapatkan anjuran dari staf yang ada untuk meninggalkan bayinya pulang.

"Saya disuruh pulang, mereka bilang sudah pak bisa pulang nanti kalau perlu ASI kami beri kabar. Lalu saya pulang. Hari ini jam 08.00 WIB saya ditelepon pihak rumah sakit mereka bilang anak saya kondisinya darurat," kisahnya.

Sampai di rumah sakit pukul 09.00 Royhan sudah melihat anaknya tak bernyawa diatas boks yang sama seperti tadi malam ia mengantar. Anaknya lemas terkulai, namun pihak rumah sakit tidak memberikan konfirmasi apapun.

"Salah seorang staf mengatakan anak bapak tidak bisa bernafas, badannya dingin, lalu kuning-kuningan. Dia hanya bilang begitu, tidak mengatakan apa-apa. Saya curiga anak saya tidak diletakkan di inkubator seperti anak yang terlahir prematur lainnya. Buktinya dia di boks yang sama seperti yang saya lihat semalam," ujarnya menahan tangis.

Atas kejadian ini pihak keluarga Royhan tak terima. Beberapa anggota datang untuk meminta kejelasan mendatangi IRNA Anak.

Belum lagi, ibunda Royhan yang syok dengan kejadian itu tak berhenti berteriak mengancam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved