Citizen Reporter
Keindahan Danau Kaolin Belitung Terbentuk karena Luka Alam
miris... luka alam ini justru menyuguhkan keindahan luar biasa bagi manusia yang telah menjarahnya...
Reportase : Rosdiana
Blogger/traveler - www.adventurose.com
LANGIT biru cerah menjadi latar bagi awan yang berarak. Terkesan dramatis. Menciptakan refleksi sempurna pada air danau di bawahnya. Siapa pun yang menyaksikan pemandangan ini, pasti tak akan menyangkal, bahwa apa yang tersaji di depan mata begitu indah. Cantik luar biasa.
Cuaca siang itu benar-benar terik. Sesampai di lokasi, jujur saya merasa takjub dengan pemandangan yang ada di depan mata. Di sebelah kanan ada danau dengan air berwarna hijau tosca kebiruan yang cakep banget. Di seberangnya ada gundukan serupa bukit berwarna putih yang ternyata merupakan tumpukan kaolin. Di bawah terik matahari begini, warna putihnya terasa menyilaukan.
Di lokasi danau, tidak ada tempat parkir, juga loket untuk membeli tiket masuk atau sekadar untuk memperoleh informasi. Wajar. Karena sejatinya, danau yang cantik ini bukan tempat wisata. Danau ini terbentuk dari lubang-lubang bekas penambangan kaolin yang ditinggalkan begitu saja.
Kalau naik pesawat di atas langit Bangka dan Belitung, lubang-lubang bekas tambang ini akan terlihat jelas. Bukan hanya satu, tapi banyak. Memang sih, kalau dilihat dari dekat begini kelihatannya indah. Tapi jujur saya jadi merinding membayangkan efek jangka panjangnya. Apa jadinya kalau bumi Belitung yang hijau permai itu dibabat sedikit demi sedikit, kemudian tanahnya dikeruk untuk dijadikan lahan tambang baru? Dan setelah ditambang, lubang-lubang bekas galiannya ditinggalkan begitu saja?
Entahlah. Perasaan saya campur aduk waktu berada di Danau Kaolin ini. Di satu sisi, saya mengagumi keindahan pesonanya. Tapi di sisi lain saya juga miris. Danau Kaolin ini bukan satu-satunya keindahan yang terjadi karena luka alam. Sebut saja Bukit Jaddih di Bangkalan atau Bukit Jamur di Gresik. Keduanya adalah 'korban' dari penambangan kapur.
Saya tidak ingin berdebat mengenai pertambangan. Karena seperti yang kita ketahui bersama, di samping bisa membuka lahan pekerjaan, hingga detik ini, hasil dari industri pertambangan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia. Seperti kaolin ini contohnya. Kaolin termasuk dalam kelompok mineral lempung dengan kandungan besi rendah. Kaolin banyak digunakan dalam industri keramik, obat-obatan, kosmetik, juga cat.
Dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 disebutkan, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tapi, kalau hasil limbah dari kegiatan penambangan itu mencemari lingkungan, apa masih bisa disebut sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kemakmuran rakyat? Rakyat yang mana dulu? Apakah rakyat Indonesia di masa yang akan datang?
Kalau dilihat fenomena seperti yang terjadi sekarang ini, sepertinya generasi yang akan datang hanya akan menikmati limbah dari sungai-sungai yang tercemar, dan hutan-hutan yang semakin gundul. Sementara lahan-lahan bekas penambangan itu ditinggalkan begitu saja tanpa ada usaha untuk mereklamasi kembali.
Ya, semoga ada itikad baik dari para pengusaha tambang untuk bertanggung jawab pada apa yang telah dirusaknya. Bukan hanya datang, mengeruk keuntungan, lalu pergi begitu saja. Let's save Belitung. Let's save Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/danau-kaolin-belitung_20160721_172500.jpg)