Berita Bangkalan Madura
Pawai Hias Dokar Masih Bertahan di Lebaran Ketupat Bangkalan
"Jangan dijual dokarnya teh (paman). Dihias lagi Lebaran Ketupat tahun depan," teriak Master of Ceremony (MC) dari atas panggung Pawai Hias Dokar kepa
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Yoni
SURYA.co.id | BANGKALAN - Di tengah berkembangnya moda angkutan darat, dokar masih tetap menjadi pilihan masyarakat Desa Jaddih, Bilaporah, dan Parseh Kecamatan Socah.
Itu terbukti dari keikutsertaan dokar (gerobak yang ditarik kuda) dalam pawai hias pada Lebaran Ketupat di tiga desa tersebut, Rabu (13/7/2016).
"Jangan dijual dokarnya teh (paman). Dihias lagi Lebaran Ketupat tahun depan," teriak Master of Ceremony (MC) dari atas panggung Pawai Hias Dokar kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dalam pawai transportasi massal bertemakan Pesta Rakyat dan Halal Bihalal Masyarakat Desa Jaddih, Bilaporah, dan Parseh itu, keikutsertaan dokar lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Tercatat, ada 10 dokar yang dihias beraneka bentuk dengan menggunakan bahan kertas.
Mulai dari hiasan ala kereta kencana dengan sepasang pengantin cilik hingga disulap meyerupai kendaraan tempur jenis tank.
Selain dokar, pawai juga diikuti oleh alat transportasi lainnya seperti pikap meyerupai perahu, juga diikuti oleh pikap, sepeda motor, dorkas, dan odong-odong yang dihias dengan motif macan terbang.
Imam Syafii (52), warga Desa Jaddih mengungkapkan, pawai hias tersebut telah dimulai sekitar tahun 1960. Saat hanya dua alat transportasi berupa dokar dan cikar (gerobak yang ditarik sapi) saja yang meramaikan.
"Barulah di tahun 1985, pawai mulai dikoordinir. Seiring perkembangan zaman, cikar mulai punah. Namun dokar ternyata masih ada sampai sekarang," ungkap pria yang menjabat Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram itu kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Imam yang menjadi Ketua Panitia Hias Cikar dan Dokar di tahun 1985 itu menjelaskan, terbentuknya kepanitiaan untuk menata pawai tersebut dikarenakan para pemuda Desa Jaddih setiap Lebaran Ketupat selalu mencari hiburan ke desa-desa lainnya.
"Tak jarang terjadi keributan dengan pemuda dari desa lain. Oleh karena itu, kami mengisi kesibukan agar para pemuda tidak keluyuran saat Lebaran Ketupat. Para pemuda di tiga desa akhirnya dilibatkan dalam kepanitiaan," jelasnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Mantan Sekretaris Pengda PSSI Jatim itu menambahkan, seiring perkembangan zaman pawai selalu diwarnai kemacetan karena kendaraan roda dua dan roda empat semakin banyak.
"Karena rutenya melintasi jalan poros di tiga desa; Parseh, Jaddih, dan Bilaporah sejauh kurang lebih tiga kilometer. Ke depan panitia harus mencari solusi agar pawai tidak selalu membuat macet," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pawai, Arif Wajjra Parasi (20) mengatakan, ketidakhadiran transportasi cikar dalam pawai dikarenakan perannya sudah tergantikan oleh pikap.
"Cikar sebagai pengangkut hasil bumi dan batu gamping sudah tergantikan pikap. Semoga dokar akan tetap bertahan kendati alat transportasi semakin maju," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-bangkalan-pawai-dokar-sambut-lebaran-ketupat_20160713_185429.jpg)