Minggu, 12 April 2026

Berita Magetan

Bedug Magetan Ekspor hingga Jepang, Korea, dan Taiwan, namun

"Saya memang pernah belajar membuat bedug di Jepang, paling tidak belajar tata cara memproses dan memilih kulit," ujar Apong perajin bedug.

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Parmin
surya/doni prasetyo
Aktivitas pembuatan bedug di rumah Apong di warga Desa Sugih Waras, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Minggu (19/6/2016). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Bedug salah satu alat musik tradisional hampir dimainkan seluruh bangsa di Asia, juga sebagian bangsa di Eropa.

Bedug tersebut memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional dalam kegiatan ritual keagamaan.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atau sembahyang.

Tapi siapa sangka, bedug karya perajin di Desa Sugih Waras, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan dikenal dan bisa menembus negara Jepang, Korea, dan Taiwan.

"Saya memang pernah belajar membuat bedug di Jepang, paling tidak belajar tata cara memproses dan memilih kulit yang cocok untuk alat musik yang cara membunyikan dengan dipukul ini,"kata Apong, perajin bedug di Desa Sugih Waras, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan kepada Surya.co.id, Minggu (19/6/2016).

Sebelum menekuni kerajinan bedug ini, Apong pernah kerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Jepang dan Taiwan.

Selama bekerja di negeri orang (Jepang, Taiwan) itu, Apong bekerja ditempat perajin Taiko, salah satu instrumen musik tradisional Jepang yang bentuknya hampir sama dengan bedug.

Perbedaannya, Taiko di tabuh dengan posisi vertikal dan hanya memiliki satu sisi, sedang Bedug ditabuh dengan posisi horisontal, dan memiliki dua sisi.

"Tapi cara mengeringkan kulit dan memilih kulit yang cocok belum diketahui bangsa kita, begitu juga dengan pembuatan bedug yang baik,"jelas Apong, pria kelahiran Pulau Bangka ini.

Kalau di Indonesia bedug dibuat dari sebarang kulit, terutama kulit sapi. Tapi proses pengeringannya, lanjut Apong, tidak bisa sempurna sehingga bila dibuat bedug atau alat musik tabuh yang lain mudah berkerut dan jebol.

"Kalau bedug hasil karya saya dibuat dari kulit kerbau, yang kita datangkan dari Banten, sedang proses pengiringan kita pakai sistem yang saya peroleh dari Jepang, yang pengeringannya hanya sampai 60 persen,"kata pemilik gerei bedug bernama Madinah ini.

Harga bedug dibuat dari kayu trembesi Rp 3 juta sampai Rp 30 juta. Harga itu juga tergantung permintaan dari bahan, dan besar diameter bedug.

"Saya baru kirim bedug berukuran besar dengan diameter 180 sentimeter ke Banten. Harga bedug dengan diameter sebesar itu kita patok Rp 30 juta sampai di tempat,"kata Apong.

Dia mengaku karyanya itu kebanyakan dikirim ke masjid dan surau di Banten juga Aceh.

Kalau warga Jepang, Korea dan Taiwan,ucap Apong, biasanya menginginkan bedug, langsung datang ke gereinya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved