Minggu, 12 April 2026

Berita Surabaya

Menurut Prof Nasih, Tak Masalah Rektor dari Luar Negeri Asal Mau Digaji Pas-pasan

Wacana ini merupakan respon atas keinginan Presiden agar pendidikan tinggi Indonesia mampu bersaing di kelas dunia.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Musahadah
surya/nuraini faiq
Rektor Unair M Nasih 

SURYA co id | SURABAYA - Wacana adanya rektor dari luar negeri yang mau bekerja di Indonesia, direspon beragam petinggi perguruan tinggi.

Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof M Nasih merasa tak masalah jika tenaga luar negeri mau menjadi rektor. Asalkan mau digaji pas-pasan.

" Di Indonesia tentu beda, tidak bisa disamakan dengan negara lain. Tidak punya uang dan dana dosen kurang. Kesejahteraan pas-pasan dengan infrastruktur memprihatinkan. PTN dikasih rektor siapa saja tidak akan ngefek, lagian mana ada rektor luar negeri yang mau kerja bakti seperti budaya Indonesia," tuturnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Sabtu (4/6/2016).

Kondisi ini berbeda dengan Arab Saudi yang kaya raya dengan dosen banyak, infrastruktur lengkap, kesejahteraan dosen dan staffnya bagus serta jumlah mahasiswanya tidak banyak.

"Tidak perlu antisipasi (datangnya tenaga pendidik luar negeri). Bayaran pas-pasan selama ini sudah cukup membuat tenaga luar negeri tidak mau menjadi staf PTN,"lanjutnya.

Kecuali, mereka mau digaji pas-pasan, menurutnya tidak masalah ada tenaga luar negeri. Karena bisa mendorong penelitian dan publikasi bersama.

Sementara itu, Suprapto, Kepala Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VII Jatim menjelaskan, adanya rektor luar negeri hendaknya dikaji lebih dalam lagi.

Karena selama ini PT sudah berkembang cukup baik dengan dipimpin anak negeri.

"Memang tujuannya baik untuk meningkatkan PT agar bisa berada di tingkatan dunia. Tetapi kalau bisa jangan sampai jabatan rektor dari orang luar.  Lebih tepat untuk staff ahli saja," terangnya.

Menurutnya sebagai rektor, harus bisa membaur dan menguasai kondisi stafnya yang mayoritas berkebudayaan Indonesia. Jadi lebih baik memperkuat pada kondisi internal PT.

"Potensi anak negeri ini besar, jadi jangan sampai disia-siakan dan memilih tenaga luar negeri,"ungkapnya.

Wacana akan adanya rektor dari luar negeri ini kembali ditegaskan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir beberapa waktu lalu dalam kunjungannya melihat tes SBMPTN di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Dikatakannya, wacana ini merupakan respon atas keinginan Presiden agar pendidikan tinggi Indonesia mampu bersaing di kelas dunia.

Kebijakan semacam ini, menurut Nasir, juga sudah lazim dilakukan kampus-kampus di luar negeri.

Di antara negara yang sudah melakukan langkah ini antara China, Singapura, dan Arab Saudi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved