Sabtu, 9 Mei 2026

Jurnalis Prancis Menyusup ke Jaringan ISIS, Hasilnya Tak Menemukan Nilai-nilai Islami

Menggunakan nama samaran Ramzi, jurnalis tersebut mengaku "tidak melihat Islam" selama enam bulan penyamarannya.

Tayang:
Penulis: Aji Bramastra | Editor: Yuli
http://dailysignal.com
ILUSTRASI - Kakak beradik, Yazidi, yang berhasil melarikan diri dari tahanan ISIS, duduk di kamp pengungsi di pinggiran provinsi Duhok 3 Juli 2015. Ratusan wanita, pria dan anak-anak ditangkap ISIS sebagai tahanan. (Foto: Stringer / IRAK / REUTERS / Newscom) 

SURYA.co.id - Apakah ISIS (dulu Islamic State of Iraq and Syria, kini Islamic State) benar-benar hanya menggunakan agama Islam sebagai kedok untuk meneror orang?

Seorang jurnalis asal Perancis berusaha menemukan jawaban tersebut dengan cara yang nekat.

Dikutip dari situs The Independent, Selasa (3/5/2016), jurnalis itu menyusup dan berbaur bersama dengan para simpatisan ISIS dalam jaringan teror bawah tanah di Paris.

Lalu, apa yang ditemukan? Mengejutkan, karena menurut dia, para simpatisan ISIS itu sama sekali tidak paham soal Islam.

Menggunakan nama samaran Ramzi, jurnalis tersebut mengaku "tidak melihat Islam" selama enam bulan penyamarannya.

Dia hanya menemukan para pemuda yang "tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dicuci otaknya."

Investigasi ini dilakukan antara musim panas 2015 hingga Januari 2016.

Dia mengaku sangat mudah menghubungi kelompok yang menyebut diri sebagai "Tentara Allah" di Facebook itu.

Ramzi juga mengklaim merekam banyak peristiwa dalam kelompok itu menggunakan kamera tersembunyi, termasuk rapat perencanaan serangan di sebuah kelab malam.

Dikutip dari The Independent, rekaman tersebut bahkan ditayangkan di stasiun televisi Canal+ pada Senin lalu dengan judul "Tentara Allah."

Ramzi mengatakan, jaringan itu dipimpin oleh pemuda berusia 20 tahun bernama Ossama.

Dia sempat ditolak masuk angkatan bersenjata Perancis.

Yang mencengnagkan, alih-alih Islam taat, Ossama pernah menjadi pemuja setan atau Satanis, dan dia adalah seorang pecandu alkohol.

Ossama memulai jaringan ini setelah berkenalan dengan kelompok Islam radikal di internet.

Dia pernah dipenjara selama enam bulan setelah ketahuan mencoba bergabung dengan ISIS. Dia dibebaskan dan wajib lapor setiap hari ke pos polisi.

Sumber: Surya Malang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved