Rabu, 15 April 2026

Berita Mojokerto

Diena Cahyani, Kolektor Ratusan Novel Horor yang Ingin Buka Cafe Book

"Ini yang sering saya sampaikan pada tiga anak saya, dimana setinggi apapun sekolah yang diraih, membaca buku tetap jadi pondasi utama."

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Parmin
surya/sudarma adi
Diena Cahyani di antara sebagian koleksi novel horor di rumahnya, Jl Pangrango 8 Kota Mojokerto, Senin (2/5/2016). 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Buku adalah sumber pengetahuan sekaligus jendela dunia.

Pameo ini seakan jadi bagian hidup pemilik sekaligus guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 'Mutiara Hati', Diena Cahyani.

Kesukaannya pada buku, membuatnya punya koleksi lebih dari seribu novel, majalah dan komik, khususnya novel bertema horor.

Pembawaan perempuan berjilbab ini terlihat supel. Matanya selalu berbinar, menyiratkan semangat hidupnya yang tinggi.

Gaya bicara ibu tiga anak ini ceplas ceplos. Cara bicara yang lancar, tampaknya terkait erat dengan pengetahuan yang luas dan kesukaannya membaca berbagai jenis buku, baik komik hingga novel bertema horor.

Diena, panggilan perempuan yang lahir pada 15 juni 1973 ini tak menampik bahwa hanya lewat buku, manusia bisa meraih masa depan yang cerah.

Apalah arti sebuah sertifikat sarjana, jika nantinya manusia hanya jadi pesuruh atau 'robot' pekerja yang tak mampu mencerahkan.

"Ini yang sering saya sampaikan pada tiga anak saya, dimana setinggi apapun sekolah yang diraih, membaca buku tetap harus jadi pondasi utama meraih masa depan," terangnya saat ditemui di rumahnya, Jl Pangrango 8 Kota Mojokerto, Senin (2/5/2016).

Kesukaan Diena pada buku sejatinya dimulai sejak kecil. Bapaknya, Sucahyo yang seorang pengacara sering membelikannya buku komik legendaris macam Tintin karangan Herge.

Dia juga sering membaca komik Donald Bebek hingga majalah remaja putri. Bahkan karena suka membaca, sejak duduk di bangku SMA, dia mulai mengoleksi berbagai buku novel detektif dan petualangan karangan Agatha Christie hingga S Mara GD.
Menginjak kuliah di Akademi Litigasi RI (Altri) di Jakarta, berbagai buku disantapnya. Kesukaaan membaca buku, membuat pikiran dari istri pengacara Deni Prasetyawan ini makin terbuka.

Pikirannya pun tercerahkan, dimana dunianya adalah untuk memberi pencerahan pada orang lain.

"Saya memilih 'kabur' alias tak melanjutkan kuliah. Saya hanya kuliah sampai semester tiga," terangnya.

Dunia baca membaca buku terus berlanjut hingga dia berkeluarga. Ketika jadi ibu rumah tangga, dia sering membeli buku-buku kesukaannya. Bahkan, hampir setiap malam dia selalu menyempatkan membaca 3-4 buku.

Dia juga selalu mengganggarkan Rp 300-400 ribu per bulan untuk mengoleksi buku.
Tak hanya itu, saking sukanya membaca, dia tak melepaskan dari buku ketika ada di WC.

"Buku saya ada dimana-mana, di kamar hingga WC," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved