Senin, 8 Juni 2026

Berita Malang Raya

Universitas Brawijaya Tambah 4 Guru Besar, Syaratnya Tak Mudah

Sulitnya menjadi guru besar antara lain karena ada persyaratan di Kementrian Ristek dan Dikti harus ada publikasi di jurnal internasional.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli
Sylvianita Widyawati
Prof Dr Dra Noermijati MTM, guru besar FEB UB Malang 

SURYA.co.id | MALANG - Universitas Brawijaya (UB) Malang menambah empat guru besar baru. Mereka akan dikukuhkan pada besok, Selasa (19/4/2016) di Gedung Widyaloka.

Empat orang itu adalah Prof Yunianta (Fakultas Teknologi Pertanian), Prof Tatiek Islami (Fakultas Pertanian), Prof Wignyanto (Fakultas Teknologi Pertanian) dan Prof Noermijati (Fakultas Ekonomi dan Bisnis).

"Kami produk 2015. Jadi dikukuhkan bersama besok," jelas Prof Titiek Islami kepada wartawan usai gladi resik, Senin (18/4/2016).

Prof Tatiek termasuk cepat mengurus profesornya. Yaitu enam bulan. Sedang tiga orang lainnya sejak 2010.

Terpisah, Prof Dr Ir Kusmartono, Wakil Rektor 1 UB menyatakan mendorong percepatan guru besar di UB. Dengan dikukuhkan empat orang tersebut, maka UB memiliki 224 guru besar.

"Namun jumlahnya belum sampai 20 persen," jelas dia. Menurutnya, ada 12 orang lagi yang didorong agar bisa menjadi guru besar.

Sulitnya menjadi guru besar antara lain karena ada persyaratan di Kementerian Ristek dan Dikti harus ada publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus.

Sementara itu, Prof Noermijati menyatakan, angkatan kerja di Indonesia didominasi usia 20-36 tahun yang masuk kategori generasi Y.

Mereka lahir di era 1980-2000-an. Sementara pimpinan mereka adalah generasi X, yaitu yang lahir di era 1960-1980.

"Sehingga ada kesenjangan. Namun jika dikelola dengan baik, antara generasi X-Y bisa berjalan bersama agar bisa memberi kontribusi organisasi," jelas Prof Dr Dra Noermijati MTM, guru besar Fakultas Ekonomi dan Binis (FEB) Universitas Brawijaya Malang, Senin (18/4/2016).

Hal itu akan disampaikan pada pidato pengukuhannya "Tanggapan Persaingan di Era Global Melalui Pengembangan SDM dan Pengelolaan Keberagaman".

Menurut Noermijati yang akan dikukuhkan pada Selasa (19/4/2016) besok, generasi Y memiliki karakter khusus. Karena itu harus dikelola dengan baik.

"Mereka keinginannya serba cepat, tidak mau terikat, mencoba hal-hal baru dan cepat bosan dan tidak lepas internet dan ingin hasil cepat," jelas wanita berhijab ini.

Dengan hal khusus itu, jika pimpinannya generasi X, maka akan ada kesenjangan jika tidak ada pemahaman.

Diakui, generasi Y adalah cepat dan effortnya luar biasa. Hal ini karena kemampuan mereka di bidang IT. Sehingga ada kondisi kontraditif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved