Hadapi Anak Sulung, Tengah dan Bungsu Haruskah Berbeda? Ini Jawabannya
Sikap keluargalah yang akhirnya membuat kepribadian seseorang terbentuk. Dengan kata lain, dengan didikan yang sama.
Penulis: Endah Imawati | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Teori psikologi lama pun pernah menyatakan, bahwa anak sulung merupakan yang istimewa namun dibebani dengan tanggung jawab, anak tengah adalah pencari perhatian yang berjuang untuk menemukan identitas diri, sedang anak bontot adalah “bayi” yang bermandikan kasih sayang.
Ya, pola pengasuhan anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu sering dibedakan.
Orang tua melihat urutan kelahiran menjadi salah satu penentu kepribadian anak. Paling tidak, perlakuan orang dewasa di sekitar anak akan berdampak pada perkembangan diri anak.
Konsep urutan kelahiran bukan didasarkan hanya pada urutan kelahiran. Birth order menurut Tim Vita Mind dalam buku Misteri Perilaku Anak Sulung, Tengah, Bungsu, dan Tunggal menyebutkan konsep itu lebih berdasar pada persepsi psikologis yang terbentuk dari pengalaman seseorang di masa kecilnya, terutama ketika berusia 2-5 tahun.
Setiap anak harus mengatasi masalah yang dihadapinya dengan menggunakan seperangkat keterampilan khusus.
Keterampilan khusus inilah yang kemudian terbentuk menjadi karakteristik mereka di kemudian hari.
Julia Rohrer dari University of Leipzig di Jerman mencari kebenaran dari teori lama yang menyebutkan anak sulung merupakan pribadi istimewa.
Mereka meneliti data milik 20.000 orang dewasa di Amerika Serikat, Inggris, serta Jerman untuk mendapat simpulan.
Sebagian besar anak sulung memang mendapat skor lebih tinggi dalam kecerdasan, namun hal itu bukan karena urutan lahir, melainkan interaksi sosial dalam keluarga.
Anak sulung biasa diperlakukan sebagai guru bagi adik-adiknya, diajarkan untuk melakukan, mengatakan, atau menjelaskan sesuatu dengan benar, sehingga mendorong intelegensi mereka.
“Sikap keluargalah yang akhirnya membuat kepribadian seseorang terbentuk. Dengan kata lain, dengan didikan yang sama, bukan tidak mungkin anak bungsu tumbuh lebih mandiri,” kata Rohrer.
Dalam pengasuhan anak yang jumlahnya lebih dari satu, tidak ada orang tua yang konsisten memperlakukan anaknya persis sama.
Secara insting mereka cenderung membedakan anak berdasarkan urutan kelahiran.
Misalnya, orang tua memberi tanggung jawab lebih besar kepada anak sulung karena dianggap lebih tua, lebih kuat, dan lebih berpengalaman.
Mereka memberi lebih banyak kelonggaran kepada anak bungsu karena dianggap paling muda, paling lemah, karena itu harus dilindungi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-anak-anak_20160410_085554.jpg)