Berita Surabaya
Suara Para Pedagang asal Sampang Usai Tergusur dari Pasar Keputran Surabaya
Bersama dua anak dan istrinya, pria asal Sampang ini tinggal di stan kios berukuran 3 x 6 meter persegi ini, sembari bekerja menjual sayur.
Penulis: Rorry Nurwawati | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Muria, warga Sampang, Madura, harus rela meninggalkan Pasar Keputran, Surabaya setelah menempati selama lebih dari 18 tahun.
Pedagang sayur ini harus mencari tempat tinggal baru setelah Pemerintah Kota Surabaya menggusur pasar itu, Rabu (6/4/2016) pagi.
Sejak pagi, tim gabungan telah berjaga di depan Pasar Keputran Utara. Mulai dari Satpol PP, Polisi, TNI, Linmas, hingga SKPD terkait merapatkan barisan untuk mentertibkan kios liar yang telah beralih fungsi sebagai hunian rumah tangga.
Tepat pukul 09.30, tim gabungan mulai memasuki area yang memiliki stan kurang lebih 500 ini. Tim langsung menyasar lantai dua Pasar Keputran Utara, yang mayoritas ditinggali oleh warga Madura.
Saat petugas mulai mendata, para penghuni mulai berhamburan. Mulai dari mengemasi barang-barang hingga menutup pintu kios dengan gembok.
Muria pun terlihat mengemasi barang-barang berupa sayur yang siap untuk diangkut. Sayur itu rencananya akan diambil pembeli setianya dari Surabaya. "Nanti sore mau diambil," kata perempuan 38 tahun ini.
Dengan mengenakan kain jarik, perempuan ini dengan cekatan memindahkan barang-barangnya di pojokan ruang di Pasar Keputran. Raut panik terlihat dari wajahnya, meski Muria lebih banyak menunduk.
Di sini, tim dibagi menjadi dua bagian, yakni satu tim untuk mendata para penghuni dan satu tim sebagai pengemas barang-barang.
Bila penghuni tidak memiliki kartu identitas seperti KTP atau SIM, maka petugas akan mengarahkannya kepada petugas lain yang telah menunggu untuk mendata.
Tidak hanya itu, penghuni yang telah tinggal lama di Pasar Keputran namun berasal dari luar Kota Pahlawan, petugas juga mengarahkannya ke tempat yang terpusat di bagian sisi timur.
Di sini, penghuni mulai mengatre untuk pendataan. Mulai dari tua muda, mengantre dengan tertib di tempat duduk yang telah disediahkan.
Lain Muria, lain pula cerita Muh Khusaini. Pria 35 tahun ini telah tinggal di Pasar Keputran Utara sejak tahun 2010.
Bersama dua anak dan istrinya, pria asal Sampang ini tinggal di stan kios berukuran 3 x 6 meter persegi ini, sembari bekerja menjual sayur.
Meski baru enam tahun tinggal di stan pasar, Khusaini harus membayar sejumlah uang untuk menyewa selama satu tahun terakhir.
Tidak hanya itu, selain membayar uang Rp 1 juta setiap tahunnya untuk menyewa stan, Khusaini juga harus membayar retribusi dari PD Pasar sebesar Rp 75 setiap bulannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-para-pedagang-pasar-keputran_20160406_193258.jpg)