Kamis, 14 Mei 2026

Citizen Reporter

Mengawal Serat Wedhatama hingga Thailand

selarik tembang pangkur potongan dari Serat Wedhatama itu begitu memukau saat dibawakan di Universitas Chulalongkorn Thailand... lalu kenapa kau abai?

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
flickr
Sepotong serat Wedhatama 

Reportase : Nurul Fauziah Asal
Mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Negeri Malang

AJANG Indonesia-Thailand Youth Collaborative Exchange Program yang digelar pada 15 Maret 2016 menjadi media yang tepat untuk menyalurkan ide kreatif. Salah satu lokasi tujuan acara ini adalah Universitas Chulalongkorn, Universitas tertua di Bangkok, Thailand.

Dalam acara itu, saya diberi kesempatan mempresentasikan ide kreatif dalam menghadapi MEA. Saya angkat karya sasra Jawa berjudul serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV, sebuah karya yang lama tertimbun.

Saya merasa betapa tidak terjamahnya karya-karya sastra Jawa saat ini, meski sarat nilai yang layak dikaji. Lewat makalah The Introduction of serat Wedhatama ini, saya memaparkan aspek nilai yang terkandung dalam serat Wedhatama yang saya rangkum menjadi empat hal, yaitu perihal menuntut ilmu, perilaku manusia, nasehat, dan ajaran ketuhanan.

Presentasi tersebut diikuti seluruh peserta ITYCEP 2016, Dekan Fakultas Seni, dan Profesor dari Universitas Chulalongkorn, Mrs Ross Mouer, serta beberapa mahasiswa jurusan seni dari universitas itu. Di akhir presentasi, saya mengajak audience menyanyikan sebait tembang pangkur dari serat Wedhatama.

Saya mengeja satu per satu kata terlebih dulu, lalu mereka tirukan. Awalnya mereka sulit melafalkan kata-kata bahasa Jawa yang belum mereka kenal. Tetapi mereka cukup antusias. “I wonder the song that you sing," kata seorang mahasiswa.

Awalnya, saya mengira mereka bakal tidak nyaman ketika diajak menyanyi tembang Jawa itu. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan, ingin sekali mengiringinya dengan musik-musik khas Thailand. Ini jadi penyemangat buat kita untuk menyosialisasikan budaya Indonesia.

Tujuan utama pengenalan sastra Jawa itu adalah upaya saya sebagai mahasiswa minor Jawa Universitas Negeri Malang untuk mempertahankan warisan budaya Indonesia yang belum dipatenkan.

Di era MEA ini, sangat siapapun bisa keluar masuk dan memelajari budaya-budaya Indonesia. Jika kita tidak ingin budaya kita dipatenkan negara lain, setidaknya kita dapat memperkenalkannya kepada warga asing bahwa inilah budaya kita, Indonesia!

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved