Profil
Berkenalan dengan Sudarmaji, Dalang dan Pembuat Wayang Raksasa dari Mojokerto
#Mojokerto - Pria ini merupakan satu-satunya dalang raksasa di Jawa Timur. Dia memainkan wayang setinggi orang dewasa...
Penulis: Sudharma Adi | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I MOJOKERTO - Totalitas dalam dunia dalang dan wayang kulit menjadikan sosok Sudarmaji bukan sebagai pedalang biasa.
Totalitas membuatnya bisa berkreasi, yakni dengan menciptakan dan mementaskan wayang kulit gede alias super tinggi dengan panjang tiga meter.
Kepiawaiannya ini menjadikan Sudarmaji sebagai dalang wayang gede satu-satunya di Jawa Timur.
"Proses ini butuh ketekunan dan ketelatenan. Maka, apa yang saya bisa kerjakan sendiri, ya saya kerjakan," tuturnya saat ditemui di rumahnya di Desa Sampangagung Kecamatan Kutorejo, Minggu (13/3/2016).
Lahir pada 1963, bapak tiga anak ini memulai perjalanan sebagai dalang wayang kulit penuh liku-liku.
Bukan berasal dari keturunan pedalang dan sekolah pedalangan, Sudarmaji mengawali karirnya sebagai pedalang wayang kulit mulai dari desa ke desa.
Begitu pula dengan pembuatan wayang kulit. Jika selama ini sebagian pedalang kurang mahir dalam membuat wayang, ini berbeda dengan Sudarmaji.
Secara otodidak, dia belajar membuat wayang kulit, mulai menggambar hingga pengecatan.
Nasibnya benar-benar berubah ketika pada tahun 2000an, dia menonton pentas wayang kulit Ki Enthus Susmono di TV.
Pada pentas wayang kulit itu, Ki Enthus mengeluarkan dua wayang gede dan mengklaim bahwa hanya dia yang punya wayang gede. Ini membuatnya terpacu untuk menciptakan wayang kulit gede.
Semangatnya pun membara, dimana dia membuat wayang kulit super berjumlah 50 buah. Beberapa wayang kulit super yang sudah dibuatnya adalah buto keraton, Hanuman, Bima, Antareja, dan Gatutkaca.
Rata-rata wayang kulit super itu berukuran tiga meter, atau melebihi tinggi pria dewasa. "Beratnya lumayan, sekitar 3-4 kg. Saya sering membawanya untuk pentas wayang. Tapi karena berat, saya dibantu anak buah di karawitan Siswo Laras ketika pentas," paparnya.
Untuk membuat wayang kulit super, dia beli kulit sapi secara borongan. Tiap beli, dia membawa sebanyak 49 kg kulit sapi seharga hampir sejuta rupiah.
Kulit sapi ini lalu dipotong dan dikeringkan selama seminggu. Baru setelah itu dia mulai memotong dan membuat sketsa wayang super yang diinginkan.
"Biasanya untuk kulit sapi seberat 49 kg ini bisa jadi empat wayang kulit super. Untuk tiap wayang kulit gede, saya membuatnya selama hampir 15 hari," kata pria yang selama 36 tahun tak pernah makan nasi ini.
Dengan wayang kulit super ini, namanya mulai dikenal di hampir semua daerah, mulai dari Mojokerto, Gresik, Lamongan, hingga Surabaya.
Di setiap pentas wayang kulit, dia selalu membawa dua kotak besar wayang, baik yang biasa maupun yang super. Dengan begitu, dia bisa mengkombinasi wayang saat pentas.
Dari wayang kulit supernya ini pula, dia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 20-25 juta per bulan. "Namun pentas dalang juga melihat bulan dan hajatan. Khusus untuk bulan puasa, memang lagi sepi sehingga tak ada pentas," terangnya.
Tak hanya membawa wayang kulit super untuk pentas, dia juga tak menampik bahwa wayang itu bisa dijual. Untuk tiap wayang kulit gede, dia menjualnya antara Rp 6,5 - 7 juta. Sedangkan untuk ukuran kecil, rata-rata dijual Rp 1-1,3 juta.
"Ketika pentas, ada orang yang tertarik beli wayang kulit gede itu. Mungkin karena suka, ketika saya mematok harga sekitar Rp 6 juta, dia mau beli," tambahnya.
Adanya pedalang dari Mojokerto yang punya wayang kulit super diapresiasi positif Badan Promosi Pariwisata (Bapro) Kabupaten Mojokerto. Menurut Wakil Ketua Bapro, Moedjito, itu adalah eksotis karena pedalang bisa menciptakan hal unik.
Maka, seharusnya ini bisa jadi andalan daerah untuk mengangkat budaya di Mojokerto. "Seharusnya ini bisa dijual pemkab keluar, dengan ikut gelar budaya dan Mojopahit Travel Fair. Ini akan bisa mengangkat nama Mojokerto," pungkasnya.