Jumat, 15 Mei 2026

Citizen Reporter

Menikmati Eloknya Batu dan Malang di Malam Hari tanpa Harus Terbang

bukan terbang berparalayang di malam hari... hanya dari lapangan landasan paralayang inilah pesona keindahan bisa disesap tanpa harus terbang...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
ngalam.co
Pesona yang disimak dari lapangan paralayang bukit Banyak Kota Batu 

 

Reportase : Rina Sri Utami
Mahasiswi Universitas Negeri Malang
@rsriutami

PARALAYANG malam hari yang terkenal dengan pesona keindahan kerlip lampu Kota Batu saat malam menjadi pilihan kami mengisi sela waktu di senja itu.

Berangkat beramai-ramai dari Kota Malang menuju bukit Banyak, Kota Batu, kami sengaja melalui Pujon, karena kendala motor yang tak bersahabat dengan tanjakan di Songgoriti.

Memasuki kawasan Paralayang, kami harus membayar tiket sebesar Rp 5.000 per orang plus Rp 5.000 untuk parkir per sepeda motor. Sangat terjangkau bukan?

Sesampainya di area paralayang, kami berjalan menuju lapangan yang biasanya digunakan sebagai landasan untuk terjun payung. Tentu saja, terjun payung tak beroperasi pada malam hari. Sengaja, kami datang ke tempat wisata ini pada malam hari untuk menikmati keelokan hamparan lampu malam yang disuguhkan.

Angin dari arah utara sayup-sayup menyapa kedatangan kami, menambah sensasi hawa dingin tempat wisata yang berada di ketinggian 1.315 meter dpal ini. Awan yang berarak menghalangi kami untuk melihat gemerlapnya bintang di langit. Namun, kami tak lekas kecewa, karena bintang-bintang itu tergantikan dengan kerlap kerlip indah lampu Kota Batu dan Kota Malang menghampar bagai gelaran karpet di sisi selatan.

Paralayang yang terletak di bukit Banyak ini menghipnotis wisatawan dengan kecantikannya. Membuat kami juga tak sabar untuk mengabadikannya. Sayang, tak satupun dari kami yang membawa kamera dengan resolusi memadai. Namun kami tak kehilangan akal. Sebagian dari kami menyalakan senter HP sebagai lighting dan yang lainnya menggunakan HP untuk memotret. Momen yang membuat kami tergelitik oleh ulah kami sendiri.

Awan yang sedari tadi turut memandang kecantikan paralayang tiba-tiba memercikkan air hujan. Seolah mengisyaratkan kami untuk segera berlalu. Tak lantas hengkang, kami memilih bertahan untuk mendapatkan gambar terbaik dari jepretan kamera HP.

Warung kopi di sekitar Paralayang menjadi pilihan kami untuk berteduh. Mi instandan kacang sanghai menemani perbincangan malam itu. Kopi, teh, dan susu menambah kehangatan dalam dinginnya paralayang yang menusuk. Malam semakin larut, hujan semakin menyusut, kami pun bergegas pulang.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved