Berita Bojonegoro
Bojonegoro Ubah Sampah Jadi Gas Metana, Solar Hingga Hasilkan Uang
#Bojonegoro - Bojonegoro mengubah sampah menjadi banyak bentuk, mulai solar, gas metan, dan kerajinan lain.
Penulis: Iksan Fauzi | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I BOJONEGORO - Bupati Bojonegoro, Suyoto atau akrab dipanggil Kang Yoto akan presentasi Inovasi pelayanan Publik Tahun 2016 dalam bidang penanganan sampah untuk tingkat nasional.
Kegiatan itu dilakukan setelah Bojonegoro lolos seleksi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016, dan kini masuk di tahapan presentasi dan wawancara.
Kepastian tersebut sesuai dengan surat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Nomor : Und/214/D.IV.PAN/02/2016 tanggal 25 Februari 2016 pada Pemkab Bojonegoro.
"Selama ini, sampah identik dengan beberapa hal, antara lain biaya, lahan, penyakit, dan konflik sosial. Pemerintah dalam mengatasi masalah sampah ini mengusung semangat ‘Menyelesaikan Masalah dan Melahirkan berkah" papar Suyoto dalam surat elektroniknya, Senin (29/2/2016).
Menurutnya, peningkatan jumlah penduduk Bojonegoro menjadi 1,3 juta membuat volume sampah juga bertambah.
Kondisi berbeda terjadi pada cakupan pelayanan, dan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sangat terbatas.
Melihat masalah inilah, kata Kang Yoto, Pemkab melakukan langkah inovasi dan mencari solusi atas permasalahan lingkungan. "Yakni menyulap sampah menjadi barang yang memiliki nilai tak sekedar nilai ekonomi akan tetapi nilai pemanfaatan sebagai bahan alternatif," ujarnya.
Secara khusus, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, yakni khususnya penanganan TPA mengolah sampah menjadi beberapa produk, antara lain mengolah sampah sebagai bahan bakar alternatif.
TPA Bojonegoro mampu menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) Sampah, yakni dari 22 kilogram sampah plastik mampu menghasilkan 10 liter solar yang dimanfaatkan untuk bahan bakar operasional TPA.
Selain itu, sampah yang menghasilkan bau kurang sedap ditangan DKP Bojonegoro dimanfaatkan menjadi bahan gas alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi bagi 40 kepala keluarga disekitar TPA.
"Gas methane yang dihasilkan dari aktifitas pembuangan sampah di jadikan sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan masak bagi warga sekitar. Tak hanya itu TPA yang dianggap tempat kotor dan buruk, mampu menjelma menjadi satu tempat aktifitas bagi para pemulung," paparnya.
Saat ini saja setidaknya terdapat 62 orang pemulung yang tergabung di TPA tersebut dengan rata-rata penghasilan mencapai Rp 35.000 sampai dengan Rp 50.000 rupiah per hari.
Kegiatan lain yang dijalankan dari aktifitas sampah ini antara lain adalah bank sampah induk patrol 21 dengan jumlah anggota mencapai 68 bank sampah.
Selain itu juga menghasilkan produk organik berupa kompos Bojonegoro (Kombo) yang setiap hari mampu menghasilkan 18 meter kubik kompos perharinya.
Sekedar diketahui, pada tahun 2014 sampah masuk di TPA Banjarsari mencapai 188 meter kubik dan sampah yang terolah hanya 15 meter kubik organik dan 18,28 meter kubik non organik. Sedangkan sisanya, yakni 154,72 meter kubik adalah residu.
