Jawa Timur
Kepala Tim Ahli Kadin Ungkap Jurus Ampuh Perekonomian Jawa Timur
#Surabaya #Ekonomi #Bisnis Perdagangan antar provinsi menjadi salah satu andalan Jawa Timur dalam mendongkrak perekonomian. Ini buktinya
Penulis: M Taufik | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I SURABAYA - Perdagangan antar provinsi menjadi salah satu andalan Jawa Timur dalam mendongkrak perekonomian. Jurus itu terbilang ampuh, buktinya tiga tahun belakangan neraca perdagangan Jawa Timur terus mengalami pertumbuhan.
Tahun 2013 neraca perdagangan Jawa Timur mencapai Rp 38 triliun, kemudian naik menjadi Rp 42 triliun di tahun 2014 dan pada 2015 kembali tumbuh hingga Rp 47 triliun. "Peningkatan itu merupakan hasil bisnis to bisnis antarprovinsi," ungkap Jamhadi, Kepala Tim Ahli Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jawa Timur.
Saat ini perwakilan dagang Jawa Timur sudah sebanyak 26 kantor perwakilan di berbagai daerah di Indonesia. Keberadaan mereka juga sangat vital dalam meningkatkan perdagangan antarprovinsi. "Pertumbuhan neraca perdagangan dan kerjasama perdagangan antarnegara juga mengalami peningkatan," lanjutnya.
Namun, di tahun 2016 ini pihaknya malah khawatir. Meski potensi perdagangan antarprovinsi cukup tinggi, ada kemungkinan neraca perdagangan malah bakal turun akibat para pelaku usaha yang kinerjanya menurun gara-gara pengusutan kasus dugaan korupsi.
Yang dimaksud adalah pengusutan kasus dana hibah Kadin Jawa Timur oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.
“Kami mendukung langkah aparat dalam upaya penegakan hukum, tapi peristiwa tersebut memang berpotensi terhadap melambatnya sektor perdagangan antarprovinsi di Jawa Timur," tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Kadin Kota Surabaya.
Karena itulah, pihaknya berharap masalah tersebut segara diselesaikan agar tak berlarut-larut dampaknya terhadap kondisi perdagangan di Jawa Timur. Agar para pelaku usaha bisa kembali bergairah, dan kembali bersemangat menjalankan bisnisnya.
Selain itu, produk perdagangan di Jawa Timur juga harus terus genjot agar mampu bersaing dengan produk asing. Apalagi memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sehingga produk Jawa Timur harus ditingkatkan dari segi kualitas dan harga supaya memiliki daya saing yang lebih.
Ekonomi Melambat
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur merilis bahwa perekonomian Jawa Timur tahun 2015 hanya tumbuh 5,44 persen dibandingkan tahun 2014. Angka itu menunjukkan bahwa perekonomian Jawa Timur melambat. Sebab, pertumbuhan periode sebelumnya, dari 2013 ke 2014 tumbuh sebesar 5,86 persen.
Dari sisi produksi, semua kategori mengalami pertumbuhan positif, kecuali pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi sebesar 3 persen. "Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pertambangan dan penggalian sebesar 7,92 persen," ungkap Kepala BPS Jawa Timur, Teguh Pramono, akhir pekan kemarin.
Pria yang baru menjabat menggantikan Sairi Hasbullah ini menyebut, pertumbuhan tertinggi berikutnya adalah penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 7,91 persen. "Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Net Ekspor Antar Daerah sebesar 13,39 persen,” lanjutnya.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhannya, lapangan usaha industri pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,57 persen, diikuti perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 1,09 persen.
Kemudian diikuti pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,43 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 0,39 persen.
Sementara itu, pada triwulan IV/2015 ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,94 persen bila dibandingkan dengan triwulan IV/2014. Pertumbuhan terjadi pada sebagian besar lapangan usaha. Pertambangan dan penggalian usaha merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 11,82 persen.
Berikutnya ada jasa keuangan dan asuransi sebesar 9,94 persen dan Penyediaan akomodasi sebesar 9,33 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/jamhadi_20160208_000659.jpg)