Berita Surabaya
Nyaman karena Bisa Kongkow Sepuasnya di PKL Taman Bungkul, tetapi kini Terusik Pengemis
Para pemilik mobil itu menuju areal sentra PKL untuk menikmati makanan dan jajanan yang dijajakan.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Sejumlah petugas parkir terus sibuk mengatur kendaraan yang masuk areal sentra PKL Taman Bungkul Surabaya, Kamis (21/1/2016) sore. Suara peluit dan lambaian tangan tukang parkir ini terus mengarahkan pengunjung yang baru datang agar jalan tak semrawut.
Tampak puluhan mobil berjajar, pakir, ditinggakan pemiliknya. Para pemilik mobil itu menuju areal sentra PKL untuk menikmati makanan dan jajanan yang dijajakan. Ada juga yang sekadar ngopi atau kongkow-kongkow. Sementara makin malam, ratusan motor makin memadati areal PKL itu.
Demikianlah suasana sentra PKL Taman Bungkul. Hampir setiap hari, sentra PKL itu tak pernah sepi pengunjung. Bahkan sentra PKL ini menjungkirbalikkan tradisi bahwa PKL identik dengan pengunjung kelas menengah ke bawah. Di sentra penjual makanan itu, setiap hari banyak mobil keluar masuk silih berganti.
Tidak saja rombongan anak muda, kalangan kantoran dan perusahaan juga banyak yang menjadikan tempat itu untuk ngumpul. Makan dan ngopi bareng.
"Di sini nyaman karena atmosfer dan suasananya dapat. Sejuk dan ramai," ucap Handoyo, salah satu karyawan perusahaan.
Deretan kursi dan bangku memang nyaman karena berada di bawah rindangnya pepohonan. Apalagi di deretan bangku dan kursi bisa diduduki berlama-lama. Tak ada charge bagi yang kongkow lama-lama.
"Dan di sini, semua makanan dan kopinya murah. Mau murah dan nyaman, ya di Taman Bungkul," kata Arya, pengunjung yang lain.
Sentra PKL Taman Bungkul adalah pusat penjual makanan yang sebelumnya berjualan di sepanjang makam Mbah Bungkul dan Jalan Raya Darmo. Semenjak 2005, mereka menempati sentra PKL itu. Saat ini ada 50 anggota PKL yang berjualan di tempat sejuk itu.
Salah satu pengurus senior PKL Taman Bungkul, Soebakri Siswanto, mengakui bahwa semakin tahun semakin banyak pengunjung di sentra PKL itu.
Siwanto yang penasihat Sentra PKL Taman Bungkul itu menuturkan bahwa tak berlaku tarikan atau upeti di Taman Bungkul.
"Ada yang dengan dalih keamanan atau kepanjangan tangan pemerintah meminta setoran. Bagi kami, ini tak berlaku. Kami juga tak memberlakukan tarikan rutin. Kecuali uang sewa lahan dan tempat Rp 135.000 per bulan, kami harus manut," kata Siswanto.
Sebagai sesepuh PKL di situ, Siswanto selalu mengajak anggotanya menggelar pertemuan rutin. Apalagi jika ada masalah. Bahkan sentra PKL ini juga menyetujui tak ada tarikan apa pun. Begitu juga jika harus ada iuran untuk paguyuban, semua ditolak.
"Kalau mau mencari dana untuk pengembangan PKL dan sejenisnya jangan melalui anggota PKL. Tapi harus kreatif memanfaatkan perusahaan. Mereka punya produk da PKL yang memasarkan. Bagaimana agar perusahaan menyumbang dan mendukung PKL," kata Siswanto.
PKL di tengah kota Surabaya itu memang relatif terus ramai. Namun keramaian ini mengundang aktivitas lannya. Setiap stan PKL berukuran 2,25 x 3 meter itu terus dipadati pengunjung. Di tengah-tengah itu muncul para pengamen dan tukang minta-minta.
"Kadang ngamen meyenangkan. Tapi bikin tak yaman juga. Baru makan sudah disuguhi umplung. Belum lagi, kini mulai banyak pengemis. Semua bikin tak nyaman," kata Heri, salah satu pelanggan sentra PKL Taman Bungkul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/taman-bungkul_20160121_232738.jpg)