Tren Progam Menaikan Kesuburan Pasutri
Studi WHO; Tingkat Kesuburan Pria Turun 70 Persen, Ini Jalan Keluarnya
Survei dunia menyebutkan bahwa tingkat kesuburan pria menurun drastis. Ini penjelasan masuk akal yang menyebabkan persoalan tersebut terjadi
SURYA.co.id I SURABAYA - Jumlah pasangan suami istri yang menjadi peserta program fertilitas di Surabaya meningkat dari tahun ke tahun. Ini terekam dari lima klinik fertilitas di Surabaya.
Dokter spesialis andrologi Klinik Fertilitas Signum RS Husada Utama, dr Henry Wibowo SpAnd MARS, Minggu (17/1/2016), mengatakan, meningkatnya jumlah peserta program fertilitas ini antara lain karena tingkat kesuburan pria menurun drastis dalam dua dekade terakhir.
Hasil penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada era 1999 menyebutkan bahwa jumlah normal sperma rata-rata 50 juta per cc semen. Pada 2010, angka itu turun menjadi 30 juta per cc. Lima tahun kemudian (2015), turun lagi tinggal 15 juta per cc. Berarti ada penurunan kesuburan pria hampir 70 persen dalam kurun waktu 25 tahun.
Penurunan standar kesuburan sperma ini banyak dipengaruhi faktor pencemaran lingkungan dan gaya hidup. "Termasuk merokok," ujar dr Henry.
Tingkat kesuburan pria yang ikut fitness juga turun. Ini karena mereka mengonsumsi suplemen dan obat pembesar otot. Demikian pula pria bercelana ketat. "Fenomena itu yang memicu banyak pasangan ikut program fertilitas. Karena mereka sulit memiliki keturunan," katanya.
Inseminasi atau bayi tabung bukanlah satu-satunya solusi. "Sebelum mengikuti program bayi tabung atau inseminasi, kami selalu berupaya agar pasien bisa hamil secara normal," tambah dr Henry.
Dari pasien yang datang, sekitar 10 persen ikut program bayi tabung, 30 persen ikut inseminasi, dan selebihnya hamil alami.
Pada 2015, tercatat 1.563 pasien mengunjungi klinik fertilitas. Setelah konsultasi, 156 pasien mengikuti program bayi tabung dan 468 pasien ikut inseminasi. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Menurut dr Henry, sisi lain dari meningkatnya jumlah peserta program fertilitas ini menandakan masyarakat mulai tahu teknologi medis inseminasi dan bayi tabung.
Pelopor Fertilitas
Program bayi tabung dan inseminasi bisa dilayani di Surabaya sejak 1990-an. Pelopornya adalah RS Siloam di Jalan Raya Gubeng.
Seperti halnya di RS Husada Utama, jumlah pasien program fertillitas di RS Siloam juga meningkat. Pada 2015 lebih 200 pasangan ikut program fertilitas, atau meningkat 50 persen dibanding 2014.
"Meningkatnya jumlah pasangan yang menjalani program ini mengindikasikan bahwa saat ini orang mulai memahami program inseminasi dan bayi tabung, serta biayanya bisa terjangkau," kata dokter spesialis andrologi RS Siloam, dr Aucky Hinting PhD SpAnd.
Biaya untuk program inseminasi di RS Siloam di kisaran Rp 2 juta - Rp 3 juta. Sedangkan program bayi tabung sekitar Rp 20 juta - Rp 35 juta. Ini tergantung usia pasien. Pasien berusia di bawah 30 tahun, lebih murah. Ini karena pasien berusia 30 tahun lebih, butuh lebih banyak obat.
Aucky mengatakan, pasangan yang datang berkonsultasi tidak langsung diarahkan ikut program inseminasi maupun bayi tabung. Ia mengupayakan pasien bisa hamil alami. Kalau tidak bisa, baru diarahkan ikut program inseminasi. Bayi tabung adalah alternatif terakhir.
Menurutnya, peluang keberhasilan program inseminasi sekitar 15 persen, sedangkan bayi tabung sekitar 50 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bgergairah-lagi_20150923_222226.jpg)